Cerita Saksi Disuruh Cari Koordinator untuk Aksi Bom Thamrin

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 06 Mar 2018 18:31 WIB
Sidang Aman Abdurrahman (Yul/detikcom)
Jakarta - Eks terpidana terorisme Saiful Munthohir menjadi saksi dalam sidang teroris Aman Abdurrahman. Saiful menjelaskan awalnya dia mendengar seruan amaliyah petinggi ISIS hingga akhirnya diminta mencari 'pengantin' untuk melaksanakan amaliyah.

"Yang disampaikan suatu kabar ada anjuran untuk melakukan amaliyah. Poinnya kalau tidak bisa beramaliyah ke sana (Suriah) beramaliyahlah di negeri sendiri," kata Saiful saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (6/3/2018).



Saiful menyebut dia pernah ke Nusakambangan untuk menjenguk Aman, yang dianggap sebagai guru mengajinya. Selain itu, dia berkomunikasi dengan terpidana teroris lain, Irwan Darmawan alias Rohis, yang juga ditahan di Nusakambangan.

Menurut Saiful, ia diminta menjadi koordinator oleh Rohis untuk melaksanakan amaliyah (jihad). Namun dia mengaku tidak mau.

"Dia (Rohis) mengatakan sudah ada orang yang akan melakukan amaliyah. Dia meminta saya jadi koordinator dengan menyediakan sejumlah uang untuk melakukan hal itu," kata Saiful.

Setelah itu, justru Saiful mencari Muhammad Ali untuk menjadi pelaku di lapangan. Ia mengatakan Rohis menyediakan uang hingga Rp 200 juta dan senjata untuk melaksanakan aksi bom Thamrin.

"Waktu itu Rohis (meminta) untuk mencarikan orang untuk mengambil senjata, saya suruh Muhammad Ali Rohis meminta kontak Muhammad Ali. Sekarang sudah meninggal amaliyah Thamrin," ujarnya.



Namun Saiful mengaku tidak tahu bahwa aksi yang dimaksud akan meledakkan diri di Thamrin. Pada saat kejadian, ia mengaku telah pulang kembali ke kampung halaman di Ambon.

"Saya di Ambon. Saya hanya mengkoordinir saja, untuk di lapangan M Ali," katanya.

Aman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman didakwa menggerakkan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia, termasuk bom Thamrin 2016. Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital.

Oman melakukan hal tersebut setidak-tidaknya dalam kurun 2008-2016 di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, Samarinda, Medan, Bima, dan Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Penyebaran paham tersebut diawali ceramah yang disampaikan Oman. (rvk/rvk)