DetikNews
Senin 05 Maret 2018, 19:43 WIB

Kasus Suap Wali Kota Kendari, KPK Geledah 5 Lokasi

Nur Indah Fatmawati - detikNews
Kasus Suap Wali Kota Kendari, KPK Geledah 5 Lokasi Ilustrasi (Dhani Irawan/detikcom)
Jakarta - KPK melakukan penggeledahan terkait kasus yang menjerat Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra untuk keperluan pilkada ayahnya, Asrun, yang merupakan cagub Sultra. Ada lima lokasi di Kendari yang digeledah KPK.

"Serangkaian kegiatan penggeledahan pada Jumat (2/3) dilakukan di lima lokasi, yaitu rumah dan toko/kantor milik tersangka HAS (Hasmun Hamzah) di Kecamatan Mandonga, rumah jabatan Wali Kota Kendari, rumah dan bangunan di Jl Tina Orima Kecamatan Kadia, rumah atau bangunan di Jl Syech Yusuf II Kecamatan Mandonga, serta rumah atau bangunan di Jl Sao Sao Kompleks BTN I Kota Kendari," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (5/3/2018).


Kegiatan itu, disebut Febri, dilakukan pada pukul 13.00-19.00 Wita. Dari lokasi tersebut, beberapa dokumen diamankan.

"Penyidik mengamankan sejumlah dokumen terkait proyek dan barang bukti elektronik," kata Febri.

Selang sehari dari penggeledahan, Sabtu (3/3), penyidik KPK juga memeriksa empat saksi. Menurut Febri, keempatnya turut diamankan saat operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan.


"Keempat saksi adalah saksi-saksi yang turut diamankan saat tangkap tangan di Kendari, yaitu seorang swasta, dua pegawai PT SBN (Sarana Bangun Nusantara), dan staf BPKAD," tuturnya.

Dalam kasus ini, KPK mengungkap adanya permintaan dari Adriatma untuk dana bantuan kampanye Asrun. Asrun merupakan mantan Wali Kota Kendari dua periode, yaitu 2007-2012 dan 2012-2017, sebelum digantikan anaknya.

Dana bantuan kampanye itu dimintakan kepada Dirut PT SBN Hasmun Hamzah. PT SBN, disebut KPK, merupakan rekanan kontraktor jalan dan bangunan di Kendari sejak 2012.


Pada Januari 2018, PT SBN juga memenangi lelang proyek jalan Bungkutoko-Kendari New Port senilai Rp 60 miliar. Hasmun lalu memenuhi permintaan itu dengan menyediakan uang total Rp 2,8 miliar.

KPK kemudian menetapkan ketiganya beserta mantan Kepala BKSAD Kendari Fatmawati Faqih sebagai tersangka. Peran Fatmawati ini diungkap sebagai orang kepercayaan Asrun yang menjalin komunikasi dengan pengusaha.
(nif/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
BERITA TERBARU +