Sutopo BNPB Ungkap Perjuangannya Melawan Kanker Paru Stadium Akhir

Herianto Batubara - detikNews
Senin, 05 Mar 2018 13:06 WIB
Foto: Sutopo dalam perjuangannya melawan kanker paru (dok. pribadi)
Jakarta - Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho divonis mengidap kanker paru stadium IV. Kini setiap hari dirinya berjuang melawan rasa sakit untuk bisa sembuh.

Diceritakan Sutopo, dirinya divonis kanker paru pada pertengahan Januari 2018 lalu. Dokter menyebut sel kanker sudah menyebar ke tulang dan kelenjar getah bening. Meski awalnya sempat merasa terpukul, Sutopo akhirnya tabah menerima apa yang disebutnya ujian dari Allah tersebut.

Sutopo pun berupaya sembuh dengan menjalani pengobatan di rumah sakit hingga mengonsumsi obat-obatan herbal. Awal berobat ke rumah sakit, Sutopo harus menjalani kemoterapi dan radioterapi (penyinaran-red) untuk membunuh sel kanker. Menurutnya, proses pengobatan ini sangatlah menyakitkan.

Sutopo mengaku sempat drop saat awal menjalani radiasi dan kemoterapi. Dia tidak sanggup karena mengalami mual dan muntah. Berat badannya juga turun karena makanan yang dikonsumsinya selalu dimuntahkan.


Dari sejumlah rumah sakit, Sutopo kini rutin menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Di rumah sakit ini menurutnya ada metode TACI (Trans Arterial Chemo Infusion). Kemoterapi yang dijalaninya hanya di sumber sel kanker, sehingga sel baik dalam tubuhnya tidak ikut terkena. Meski begitu, menurutnya tetap saja proses ini menyakitkan.


Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo NugrohoKepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho Foto: Ari Saputra

"Setiap hari saya diradiasi. Efek radiasi dan kemoterapi memang membuat badan tidak nyaman. Mual, muntah, pusing, lemas, sesak napas, dan tidak nafsu makan. Tapi semua harus dijalani," kata Sutopo saat berbincang dengan detikcom.

Meski setiap hari harus menjalani pengobatan di rumah sakit, Sutopo masih tetap beraktivitas ke kantor. Dia juga tetap mengajar dan ceramah di seminar-seminar meski dengan waktu yang terbatas.

"Alhamdulillah, pimpinan BNPB sangat mendukung semua. Mereka membantu banyak," ujar Sutopo.

Sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo juga tetap melayani permintaan media. Dia tetap berupaya aktif menjawab pertanyaan dan mengirimkan rilis. Menurutnya, kegiatan ini membantunya tetap aktif. Sebab jika hanya diam, rasa sakit di tubuhnya akibat kanker akan makin terasa. Dia berupaya terus mengalihkan rasa sakit itu dengan berbagai hal, termasuk bekerja.

"Batuk terus saya. Mungkin itu yang bikin pusing," ucapnya.


Sutopo mengatakan, divonis mengidap kanker paru stadium VI memang menakutkan. Meski begitu, dirinya pasrah kepada Allah menjalani penyakitnya ini. Dia tidak mau menggugat kenapa dirinya yang tidak merokok bisa kena kanker paru, apalagi menurutnya keturunan bapak dan ibunya tidak ada yang pernah divonis kanker.

Bagi Sutopo, kenyataannya dirinya mengidap kanker paru. Bagaimana bisa sembuh dan pulih kembali, itu yang harus dia jalani. Ini semua dia lakukan terutama untuk istri dan kedua orang anaknya.

"Banyak orang-orang yang menderita kanker bisa sembuh. Banyak juga yang meninggal dunia. Itu semua hanya Tuhan yang tahu," ucapnya.

Setiap salat, lanjut Sutopo, dirinya berdoa agar dosa-dosanya dimaafkan dan diberi kesembuhan dan kesehatan oleh Allah. Sutopo ingin usianya dipanjangkan agar bisa lebih baik beribadah, melayani masyarakat. Sutopo juga mendoakan agar istri, anak-anak dan keluarganya selalu diberi kesehatan dan kekuatan mendampingi dirinya sebagai seorang survivor kanker.

"Pengobatan sakit kanker perlu waktu yang panjang. Perlu biaya, tenaga, waktu, dan kesabaran yang panjang. Ibarat lari marathon saya baru start. Perlu dukungan dan semangat terus. Soal hasil akhir saya serahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa," imbuhnya.

Ditambahkan Sutopo, dirinya mengingatkan agar masyarakat mengambil pelajaran dari penyakit kanker paru yang dideritanya. Pola hidup sehat harus diterapkan agar terhindar dari penyakit.

"Ternyata sehat itu mahal. Sehat itu ternyata segalanya. Saya baru tahu setelah merasakan sakit begini. Hindari makan-makanan yang tidak sehat. Berpikir positif dan selalu ingat anak-anak yang masih butuh kita," ucapnya.

Sutopo Purwo Nugroho lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Oktober 1969. Dia adalah putra pertama pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih. Mereka dikaruniai 2 orang putra yaitu Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Sutopo menyelesaikan kuliah di Fakultas Geografi, jurusan geografi fisik, program studi hidrologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1994. Dia meraih gelar MSi dan PhD di Institut Pertanian Bogor (IPB). Penelitian utamanya di bidang hidrologi dan konservasi tanah dan air.

Mantan peneliti utama di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini bekerja di BNPB sejak Agustus 2010 hingga sekarang menjabat Kepala Pusat Data, informasi dan Humas BNPB. Dia juga mengajar pascasarjana di IPB, Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Pertahanan.

Sutopo telah menghasilkan 11 jurnal ilmiah internasional, 100 jurnal ilmiah nasional, berbagai artikel ilmiah di media massa serta berbagai buku atau bagian dari buku yang diterbitkan di tingkat nasional. Dia pernah menjadi kandidat profesor riset bidang hidrologi, namun kandas di ujung jalan. (hri/hri)