Abrasi Laut Ancam Empat Kabupaten di Sumut

Abrasi Laut Ancam Empat Kabupaten di Sumut

- detikNews
Sabtu, 25 Jun 2005 17:10 WIB
Medan - Kondisi hutan mangrove atau hutan bakau di Sumatera Utara kini semakin kritis. Abrasi air laut menjadi ancaman serius bagi empat kabupaten di provinsi ini, yaitu Tapanuli Tengah, Deliserdang, Langkat, dan Mandailing Natal. "Panjang kerusakan pantai di wilayah ini lebih dari 15 kilometer. Penanganan pantai memerlukan perencanaan yang tepat karena persoalannya sangat kompleks," kata Hafas Fadhillah, Kepala Dinas Pengairan Propinsi Sumut kepada wartawan di Medan, Sabtu (25/6/2005).Hafas Fadhillah menjelaskan, pantai yang rusak tersebut antara lain, Pantai Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah dengan kerusakan sepanjang 1.500 meter. Kondisi pantai ini mengancam dan merusak daerah permukiman, prasarana umum, dan sosial. Meski demikian, sebagian pantai ini sudah ditangani secara bertahap sejak 1998.Kerusakan hutan bakau sepanjang 4.500 meter juga terjadi di Pantai Pandan yang berada di kabupaten yang sama. Kerusakan ini juga mengancam permukiman, prasarana umum serta potensi wisata dan masih belum ditanggulangi.Di Kabupaten Deliserdang, kerusakan hutan bakau terjadi di kawasan Pantai Cermin sepanjang 4.500 meter. Kerusakan pantai di kawasan ini sedang direncanakan untuk ditanggulangi, sebab kalau tidak akan merusak potensi wisata yang ada di daerah tersebut. "Kerusakan pantai juga terjadi di Pantai Natal Kabupaten Madina, serta Pantai Pangkalan Susu Kabupaten Langkat lebih dari 4.500 meter. Kedua kawasan ini belum ditangani," kata Hafas.Hafas juga menyebutkan sektor irigasi saat ini perlu perkuatan. Selain untuk menggali potensi rawa menjadi lahan pertanian, irigasi juga dimaksudkan untuk mendukung produksi padi di Sumatera Utara yang kontribusinya mencapai empat persen atau 3,36 juta ton per tahun.Dinas Pengairan Provinsi Sumut saat ini mengelola daerah irigasi dengan luas baku 329.254 hektar, belum termasuk 26.213 hektar daerah irigasi yang terletak lintas kabupaten/kota. Keseluruhan daerah irigasi ini sangat membutuhkan perbaikan dan peningkatan karena sebagian besar kondisi jaringannya sudah menurun. "Keterbatasan alokasi dana operasi dan pemeliharaan menjadi salah satu faktor yang mempercepat penurunan kondisi ini. Selain itu juga akibat bencana alam yang hampir setiap tahun terjadi," ungkapnya. Pada tahun ini, kata Hafas, pihaknya sudah memprogramkan berbagai kegiatan untuk operasi, pemeliharaan, rehabilitasi, serta pengembangan irigasi dan rawa tersebut. Kegiatan rehabilitasi akandilakukan di 16 kabupaten kota dengan alokasi dana Rp 9,4 miliar.Sasaran penggunaan dana ini antara lain, perbaikan 3.500 meter tanggul, pembuatan 8 bangunan air, perbaikan 18 pintu air, perkuatan tebing sepanjang 1.850 meter, serta normalisasi 16.600 meter. (umi/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads