Balada Pelukis Jalanan Kota Tua Berharap Perhatian Pemda

Arief Ikhsanudin - detikNews
Selasa, 27 Feb 2018 15:18 WIB
Foto: Suyono, pelukis jalanan di trotoar kawasan Kota Tua, Jakarta. (Arief-detikcom)
Jakarta - Sepanjang trotoar Glodok, di sekitar kawasan Kota Tua Jakarta, sekitar 20 pelukis jalanan duduk memamerkan karya. Mereka menerima jasa pembuatan sketsa wajah.

Para pelukis itu memanfaatkan lokasi di depan ruko-ruko sepanjang jalan. Mereka pun lebih leluasa jika ruko tersebut tutup dan tidak digunakan.

Jaya, pelukis jalanan di trotoar kawasan Kota Tua, Jakarta.Jaya, pelukis jalanan di trotoar kawasan Kota Tua, Jakarta. Foto: (Arief-detikcom)

Para pejalan kaki menuju Kota Tua dan Jalan Pancoran hilir mudik melewati para pelukis itu. Mereka beberapa kali menoleh untuk melihat hasil karya pelukis.

Beberapa sketsa wajah tokoh terkenal dipajang sebagai contoh lukisan. Dari sketsa Basuki Tjahja Purnama (Ahok) bergaya Bruce Lee sampai Suharto dengan cerutunya.

Lokasi trotoar menjadi tempat menjaja lukisan sudah sejak tahun 1980-an ada. Kebanyakan dari mereka pernah menggeluti profesi lain.

"Saya di sini dari tahun 1998. Ya masa kerusuhan itu. Dulu saya kerja di pabrik las. Tapi ada pengurangan pegawai. Akhirnya disini," ucap salah satu pelukis jalanan, Jaya, saat ditemui di lokasi tempat dia melukis, Selasa (27/8/2018).

Sebenarnya, Jaya tidak nyaman melukis di pinggir trotoar. Suara bising kendaraan pun mengganggu konsentrasi saat melukis.

Balada Pelukis Jalanan Kota Tua Berharap Perhatian PemdaFoto: (Arief-detikcom)

Lokasi trotoar pun tidak terlalu sedap dipandang. Beberapa bangunan dibiarkan terbengkalai tak terurus.

"Pemerintah nggak ada perhatiannya sama seniman jalanan. Istilahnya pelukis trotoar," kata Jaya.

Jaya pun membandingkan kondisi ini dengan beberapa lokasi di luar negeri yang pernah dia lihat. Menurutnya, hal itu bisa dicontoh untuk membuat seniman terfasilitasi.

"Padahal ini kan termasuk kawasan wisata (Kota Tua Jakarta)," ucapnya.

Para pelukis sketsa mematok harga dari Rp 150.000 sampai Rp 1,5 Juta. Dalam sebulan, mereka bisa mendapat sekitar Rp 4.00.000.

"Ya kadang kalau sepi, seminggu nggak ada orderan juga pernah," kata Jaya.

Satu lukisan atau sketsa wajah membutuhkan waktu sekitar satu Minggu. Jika dikejar waktu, lukisan bisa selesai lima hari.

"Ya kalau minta cepat bisa lima hari, tapi lembur," kata Jaya.

Untuk tetap memiliki lapak di trotoar, mereka harus membayar uang sewa. Selain itu, ada juga gudang untuk tempat menyimpan lukisan.

"Di sini bayar perhari Rp 5.000 untuk uang keamanan, ke Hansip tadi. Kalah gudang 50.000 per bulan," ucap pelukis jalanan lain Suyono.

Suyono ingin pemerintah bisa memfasilitasi bakat seninya. Diapun ingin merasakan karyanya bisa sampai ke luar negeri.

"Kalau difasilitasi senang. Saya belum pernah ke luar negeri," ucap Suyono. (aik/idh)