Cerita Ipda Dody dan Suhadi Kena Tembak Saat Ledakan Bom Thamrin

Zunita Amalia Putri - detikNews
Selasa, 27 Feb 2018 14:39 WIB
Sidang Aman Abdurrahman (Kanavino/detikcom)
Jakarta - Dua polisi yang menjadi korban tembakan saat bom Thamrin dihadirkan menjadi saksi terdakwa Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman. Kedua polisi tersebut adalah Ipda Dody Maryadi dan Ipda Suhadi.

Ipda Dody menceritakan kronologis saat sebelum mendapat tembakan di bagian perut pelaku bom Thamrin. Dody mengaku mendapat kabar soal ledakan di Thamrin dari handy talkie (HT) saat sedang bertugas di Pos Polisi Menteng.

"Saya mendengar kabar ledakan dari radio HT ada ledakan dari Starbuck dan kemudian pospol meledak," kata Dody saat bersaksi di sidang Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Selasa (26/2/2018).

Setelah mendengar laporan tersebut, Doddy kemudian berangkat ke tempat kejadian perkara (TKP) yang berjarak sekitar 2 km dari posnya. Dia sempat mendengar suara tembakan di sekitar gerai kopi asal Amerika Serikat itu dan mendapat perintah dari Irjen Martuani Sormin, yang saat itu menjabat Karo Ops Polda Metro Jaya.

"Setelah saya mau jalan ke kafe itu saya melihat ada orang yang gelagatnya nggak bagus. Tadinya saya mau menghindar, saya nggak sadar kalau dia pelaku bom," ucapnya.


Majelis hakim kemudian bertanya apa saja yang dilihat oleh Doddy begitu tiba di TKP. Dody kemudian merinci momen-momen sebelum terjadinya penembakan.

"Begitu sampai di depan kafe, ternyata Anda lihat seseorang?" tanya hakim kepada Ipda Dody.

"Iya saya lihat dari dekat dia membawa senjata, senjata pistol yang bukan organik gitu, bukan senjata dari kepolisian. Posisi dia dari samping dia langsung nembak saya satu kali. Alhamdulillah saya sempat menutup kaca, jadi pelurunya tembus ke perut saya. Karena saya tidak bersenjata dan takut ditembak, saya jalan menyelamatkan diri," imbuh Dody.

Menurut Dody, saat itu pelaku yang menembaknya memakai masker, rompi, dan membawa tas berwarna hitam, sehingga dia tidak bisa melihat jelas wajah pelaku yang menembaknya.

[Gambas:Video 20detik]


Jaksa penuntut umum Mayasari kemudian menunjukkan beberapa foto kepada Ipda Dody dan Ipda Suhadi di persidangan. "Dari keterangan Saudara di BAP dari penyidik, Saudara menjelaskan bahwa ketiga pelaku yang tembak Saudara memakai rompi ya?" tanya Mayasari.

"Saya tidak ingat, kalau nggak salah dulu dia pakai masker, pakai rompi, dan saya tidak kenal," kata Dody.

"Yang menembak ini apakah keluar dari kafe itu atau dari mana?" tanya Mayasari lagi.

"Orang yang 2 itu yang tembak-tembakan sama petugas itu ada di kerumunan massa," jawab Dody.

Sementara itu, Ipda Suhadi, yang juga menjadi korban penembakan, mengaku sedang minum kopi di kawasan Sarinah. Setelah terjadi ledakan, dia berinisiatif mensterilkan Jalan Thamrin.

"Setelah saya patroli sekitar jam 10.00 WIB, saya berhenti di Sarinah, lalu ngobrol minum kopi. Nggak lama terdengar ledakan, saya belum tahu kalau itu bom. Tindakan pertama karena saya polisi saya turun ke jalanan untuk mensterilkan jalanan," tutur Suhadi.

"Saudara, cara mensterilkan gimana?" tanya ketua majelis hakim Akhmad Jaini kepada Suhadi.

"Mensterilkan kendaraan yang di situ yang dari Tanah Abang itu saya suruh mutar atau balik arah. Setelah saya steril, di situ teman-teman sudah mulai datang masyarakat banyak yang nonton juga di situ," papar Suhadi.

"Sebetulnya saya nggak tahu saya ditembak apa nggak, karena saya dengar banyak suara tembakan arahnya di mana-mana. Begitu saya nengok itu udah ada yang nembak saya nembus ke saya," sambungnya.


Menurut Suhadi, awalnya dia tidak sadar kena tembak pelaku bom Thamrin. Suhadi sadar setelah ada orang yang memberi tahu bahwa punggungnya mengeluarkan banyak darah.

"Saudara sadarnya gimana?" tanya hakim.

"Begitu saya dibonceng orang, saya dikasih tahu orang, 'Pak itu punggungnya darahnya banyak.' Akhirnya saya baru merasa kalau tertembak, jadi diantar oleh seseorang ke rumah sakit," ucap Suhadi.

Dalam kasus ini, Oman didakwa menggerakkan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia, termasuk bom Thamrin 2016. Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital.

Atas perbuatannya, Oman dijerat Pasal 14 jo Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

[Gambas:Video 20detik]

(ams/ams)