Relawan Asing Dilarang Berkeliaran Malam Hari di Aceh
Jumat, 24 Jun 2005 20:20 WIB
Jakarta - Kodam Iskandar Muda meminta ratusan relawan asing di Aceh tidak keluar di malam hari. Mereka diminta waspada agar nasibnya tidak seperti Eva Yeung."Kita saja yang TNI tidak boleh bergerak malam hari. Ini istilahnya bukan jam malam. Kita merekomendasikan kepada siapa pun bukan hanya kepada relawan, tapi semuanya," tegas Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Supiadin AS usai rapat terbatas di Kantor Menko Polhukam, Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (24/6/2005).Diakui Supiadin, kejadian penembakan oleh GAM yang menimpa Eva Yeung (20), relawan asal Hong Kong, membuat TNI semakin mengetatkan pengamanannya di Negeri Serambi Makkah itu."Itu (keamanan) tetap kita jamin. Tapi tidak mungkin kan pos TNI ditempatkan per 10 meter di titik-titik rawan," tandas Supiadin, seraya menambahkan Eva dihadang GAM di luar pos TNI di daerah Gruetee.Eva adalah staf International Federation Red Cross (IFRC) and Red Crescent Societies atau Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.Dia ditembak orang tak dikenal ketika sedang berada dalam perjalanan dari Meulaboh ke Aceh Besar. Tepatnya di kawasan Lamno, Aceh Jaya pada Rabu (22/6/2005) pukul 20.30 WIB.Untuk pengamanan di Aceh, lanjut Supiadin, sebenarnya TNI AD telah melakukan koordinasi dengan semua instansi terkait, termasuk organisasi internasional yang tengah menjalankan aktivitas kemanusiaan di Aceh. Tak terkecuali Palang Merah Internasilonal, PBB, dan International Organization Migrant (IOM). "Semua sudah ketemu saya. Semua sudah diberitahu untuk waspada," tandasnya. Dijelaskan Supiadin, mereka telah diminta membawa dua kendaraan jika melakukan perjalanan di siang hari. Hal ini untuk mengantisipasi jika satu kendaraan mengalami gangguan, maka kendaraan yang satu lagi bisa digunakan."Memang untuk pengamanan kita sudah tempatkan di sepanjang jalan, tapi yang namanya orang niat jahat tentu mencari waktu yang lengah," kata Supiadin.Bahkan TNI, lanjutnya, siap membantu relawan asing di Aceh jika merasa tidak aman dan membutuhkan pengawalan.Mengenai pelaku penembakan Eva Yeung, Supiadin yakin, penembaknya adalah GAM. Sebab di lokasi penembakan ditemukan 10 selongsong peluru M16, enam peluru AK47, dan satu peluru untuk M16. "Dari analisa intelijen, mereka ingin menunjukkan eksistensinya kalau dia masih ada," ungkap Supiadin.Selain itu, GAM kelihatannya juga sudah kehabisan logistik. "Sekarang ini modusnya melakukan perampasan-perampasan. Kalau ada Rp 50 ribu diambil, HP kalau ada diambil, juga perhiasan," kata Supiadin.
(umi/)











































