Suhu Memanas, Aksi Cap Jempol Darah Berlanjut di Wonogiri
Jumat, 24 Jun 2005 17:46 WIB
Wonogiri - Darah terus mengalir di tanah miskin air, Wonogiri. Bukan karena ada bentrokan massal, tapi darah itu mengalir dari jempol-jempol para pendukung PDIP. Mereka melakukan aksi cap jempol darah untuk mendukung Begug. Suhu politik di Wonogiri memang sedang memanas. Sabtu (25/6/2005), akan digelar Rakercabsus PDIP Wonogiri. Bupati Wonogiri, Begug Purnomosidi, yang memang kader PDIP akan mencoba mempertahankan kekuasaannya dalam pilkada mendatang. Rakercabsus atau yang sering disebut konvensi itu akan digelar di Gedung Giri Mandala, Wonogiri. Dua pasang kandidat yang mencalonkan diri kepada PDIP adalah Begug Purnomosidi berpasangan dengan Y Sumarmo (keduanya saat ini masih menjabat sebagai bupati dan wakil bupati) dan pasangan Mulyadi (saat ini menjabat sebagai Sekda Kabupaten Wonogiri) dengan Kol (Inf) Tri Haryono (pernah menjabat sebagai Damdim di Wonogiri). Keduanya ingin berangkat menuju Pilkada menggunakan perahu PDIP. Siapa yang akan dipilih PDIP nanti? Yang jelas, menjelang konvensi itu Begug memang diguncang beberapa persoalan. Pekan lalu dia dilaporkan ke Polda dengan tuduhan menggelapkan dana bantuan untuk operasi bayi kembar siam, awal pekan ini terjadi aksi ribuan orang mendesak Begug mundur karena diduga melakukan korupsi sejumlah proyek, dan pagi tadi ratusan PNS dan perangkat desa menolak berbagai kebijakan bupati yang dinilai politis.Mulyadi, lawan politik yang juga masih menjadi bawahan Begug, mengaku tidak tahu-menahu tentang aksi-aksi tersebut. Namun para pendukung Begug tetap menuding ada pihak yang mendanai aksi-aksi itu. Bahkan Zainuddin, Ketua Komisi A DPRD Wonogiri yang juga kader PDIP, secara terbuka menuding aksi PNS dan perangkat desa dibayar Rp 200 ribu/orang oleh seseorang untuk kepentingan Pilkada. Tidak cuma itu reaksi mereka. Sejak Kamis (23/6/2005) kemarin ratusan pendukung Begug menggelar aksi cap jempol darah di atas selembar kain putih sepajang 100 meter yang dibentangkan di depan pagar DPRD Wonogiri. Dengan dalih melawan politik uang, mereka bertekad menyelamatkan PDIP dari upaya penghancuran PDIP dari dalam.Aksi itu sudah digelar sejak kemarin. Hari ini, Jumat (24/6/2005) usai salat Jumat, puluhan orang kembali berdatangan untuk membubuhkan cap jempol darah. Di kain putih itu tertulis dengan huruf besar berwarna merah, 'Mari Kita Lawan Pengkhianat Partai'. Di depannya ada spanduk berbunyi ' Hati-hati, Sekarang Banyak Demo Bayaran.'Selain cap jempol ada pula yang membuat tulisan. Di antara tulisan itu berbunyi, 'Lawan Politik Uang', 'Bila Pak Begug Menangis, Darah Kami Taruhannya', 'Kami Tetap Dukung Pak Begug,' dan sebagainya. Wawan Setyo Nugroho, kader PDIP Wonogiri yang menjadi salah satu pemrakarsa aksi itu menyebutnya sebagai gambaran kecintaan para kader PDIP terhadap partainya."Ini bentuk aktualisasi diri kader yang tidak rela melihat ada upaya yang ingin menghancurkan partai dari dalam melalui berbagai cara. Jadi sebenernya ini bukan semata-meta mendukung Pak Begug. Kebetulan saja momentumnya bertepatan menjelang konvensi," ujar Wawan yang juga ketua Komisi D DPRD Wonogiri tersebut.Namun demikian Wawan yakin bahwa Begug akan menang dalam konvensi di Rakercabsus PDIP Wonogiri besok. "Kami masih yakin militansi para pengurus tidak gampang terbeli dengan uang. Saya juga yakin Pak Begug nantinya yang akan mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP," ujar Wawan. Untuk diketahui, lebih dari 50 persen warga Wonogiri menyalurkan aspirasinya ke PDIP dalam Pemilu legislatif 2004 lalu.Terpilihnya Begug sebagai bupati di Wonogiri tahun 2000 yang lalu juga cukup menggegerkan. Kerabat Cendana ini terpilih setelah sebagian besar anggota DPRD dari F-PDIP membelot mendukungnya dengan mengabaikan rekomendasi dari DPP PDIP yang saat itu diberikan kepada calon lain, Kenthut Wahyuni.Akibatnya tiga pengurus dan seorang anggota F-PDIP DPRD Wonogiri saat itu, termasuk Wawan dan Zainuddin, dipecat dari keanggotaan oleh DPP PDIP karena dinilai sebagai otak pembelotan. Mereka kembali diterima sebagai anggota dan direhabilitasi namanya melalui keputusan Kongres di Bali beberapa bulan yang lalu.
(asy/)











































