Relawan Asing di Aceh Diminta Koordinasi dengan Polri
Jumat, 24 Jun 2005 15:15 WIB
Jakarta - Relawan asing, Eva Yeung, ditembak di Aceh. Untuk mengantisipasi agar peristiwa ini tidak terulang, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar meminta warga asing yang beraktivitas di Aceh segera melakukan koordinasi dengan aparat keamanan. "Seyogyanya kalau ada kepentingan mendesak di malam hari di daerah yang masih rawan, beritahukan kepada kita untuk dilakukan pengawalan dan pengamanan," kata Kapolri kepada wartawan seusai mengikuti acara peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kepemudaan dan Olah Raga 2005 oleh Presiden SBY, Jumat (24/6/2005), di Istana Negara, Jakarta.Kapolri menjelaskan meski status darurat sipil di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah dicabut, masih ada beberapa daerah yang tergolong masih sangat rawan. Antara lain, Banda Aceh, Bireuen, Pidie, dan Aceh Timur. Ancaman dan gangunan keamanan, seperti pencegatan atau penyerangan, sewaktu-waktu dapat terjadi. Namun mengingat gerilyawan GAM terus berpindah tempat, tidak tertutup kemungkinan daerah yang sudah aman kembali menjadi rawan. Demikian pula sebaliknya. Karena itu, untuk memudahkan koordinasi pengamanan terhadap warga negara asing, Kapolri mengharapkan mereka aktif mengkomunikasikan keberadaannya. "Memang sulit juga kalau harus terus melapor. Paling tidak beritahukan ke mana arah geraknya dan jumlah personelnya," kata Kapolri. Dengan data-data seperti itu, aparat di lapangan akan lebih mudah mengikuti. "Kadang mereka kan bisa saja berpindah satu tempat ke tempat lain. Janganlah merasa bahwa sangat aman seperti tempat-tempat lain," ujarnya.
(asy/)











































