DetikNews
Minggu 25 Februari 2018, 16:14 WIB

Normalisasi Hulu Ciliwung , TNI-Polri Keruk Telaga Saat di Puncak

Farhan - detikNews
Normalisasi Hulu Ciliwung , TNI-Polri Keruk Telaga Saat di Puncak Foto: TNI-Polri dan warga normaliasi hulu sungai ciluwung. (Dokumen Korem 061/Suryakancana)
FOKUS BERITA: Longsor di Puncak Pas
Bogor - TNI- Polri dan 114 komunitas pecinta lingkungan melakukan upaya normalisasi Telaga Saat yang menjadi hulu Sungai Ciliwung di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 80 persen dari total luas telaga ini sudah menjadi daratan dan dipenuhi tanaman liar.

"Jadi kegiatan ini namanya Ngalokat Sirah Cai Sungai Ciliwung, yaitu membersihkan dan menormalisasikan kembali kepala sungai Ciliwung. Telaga ini hulunya Sungai Ciliwung, dan kondisinya saat ini 80 persen sudah menjadi daratan dan tertutup tumbuhan gulma dan tumbuhan air liar lainnya," kata Komandan Korem 061/Suryakancana Kolonel Infantri Muhamad Hasan ditemui di Puncak, Bogor, Minggu (25/2/2018).

Saat ini, kondisi Telaga Saat (danau kering, dalam bahasa sunda) benar-benar sesuai dengan namanya. Sejak 7 tahun belakangan, telaga seluas 6 hektare yang menjadi tempat berkumpulnya 13 mata air di kawasan Puncak ini terus mengalami pendangkalan.

Jika dalam kondisi normal, telaga ini bisa menampung debit air hingga 5 juta liter air. Namun saat ini, Telaga Saat hanya mampu menampung 100 ribu liter air.

"Kerusakan ini disebabkan karena ada pembiaran. Saya tanya sama warga sini katanya ada pengerukan 6 atau 7 tahun lalu, tapi setelah itu dibiarkan. Lihat itu tanaman eceng gondok, tanah bekas longsoran, itu seharusnya diangkat, dibersihkan, ini kan dibiarkan," kata Hasan.

Melalui kegiatan bersih Hulu Sungai Ciliwung ini, Hasan mengajak semua elemen untuk kembali mencintai dan memelihara infrastruktur alam, khususnya di kawasan Puncak. Hal ini mengingat banyaknya bencana yang terjadi di Bogor akibat kerusakan alam.

"Sebenarnya kalau semua orang di sekitar puncak mencintai alam, nggak mungkin ada vila liar, nggak ada vila di wilayah konservasi," kata Hasan.

"Percuma kita bangun bendungan, bangun jalan, kalau infrastruktur alamnya rusak, nanti juga akan rusak jalan itu, tebingan longsor, contohnya kemarin longsor di Puncak," imbuhnya.

Dalam kegiatan ini, petugas mengeruk dan mengangkat tumbuhan air liar yang menutup Telaga Saat. Ribuan bibit ikan juga diceburkan ke Telaga Saat. Penanaman pohon juga dilakukan di sekitar Telaga untuk penghijauan kembali.

"Kegiatan ini saya harap bukan sekedar ceremoni, minggu depan kita lakukan kembali pengerukan dan pemeliharaan. Proses normalisasi Telaga ini butuh peranan banyak pihak, kita harap ini bisa menularkan kepada yang lain," tuturnya.

Kawasan Telaga Saat juga merupakan kawasan Elang Jawa yang populasinya kini kian berkurang. Hasan berharap dengan normalisasi Telaga Saat bisa mengembalikan Telaga Saat sebagai tempat tinggal yang baik untuk Elang Jawa dan hewan lainnya.

"Daerah ini kan daerah konservasi Elang Jawa, dan banyak hewan lainnya disini, kalau tidak kita pelihara nanti hewannya pergi. Makanya menjadi tugas kita memelihara alamnya," katanya.


(idh/idh)
FOKUS BERITA: Longsor di Puncak Pas
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed