"Potensi bencana akibat cuaca ekstrim kita yang perlu hati-hati, contohnya di Brebes. Saat longsor (di Brebes) itu tidak ada hujan. Longsor bisa saja terjadi saat hujan dan setelah hujan. Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak ada hujan," kata Dwi di kantornya, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Longsor bisa dideteksi misalnya ada retakan di lereng, atau lereng mulai mengembung. Khusus longsor tidak muncul seketika. Penyebabnya cuaca dan penggunaan lahan yang tidak terkontrol," terang Dwi.
"Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak hujan. Masyarakat harus waspada menghindari zona-zona yang menunjukkan tanda-tanda tadi, atau paling tidak menjauh dari lereng dan sungai," imbuh dia.
Berdasarkan pengamatan BMKG dalam beberapa suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan relatif tinggi.
Diprediksi potensi hujan masih terus meningkat dalam tiga hari ke depan khususnya di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua. (zak/nkn)











































