Cerita Bupati Kulon Progo soal Pengembangan Produk Lokal

Cerita Bupati Kulon Progo soal Pengembangan Produk Lokal

Haris Fadhil - detikNews
Sabtu, 24 Feb 2018 16:45 WIB
Cerita Bupati Kulon Progo soal Pengembangan Produk Lokal
Foto: Haris Fadhil/detikcom
Jakarta - Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo bercerita soal pengembangan produk lokal di daerahnya. Salah satunya lewat produk air minum kemasan yang diproduksi BUMD.

"Yang sederhana, air putih saja. Saya tanya ke PDAM, perusahaan daerah air minum tidak pernah bikin air minum, tapi air mandi. Di Kulon Progo itu kebanyakan air minum dari perusahaan Prancis. Apakah tidak lebih baik start small, kalau Kulon Progo nggak bisa bikin HP, bikin saja air putih (air mineral kemasan)," kata Hasto di Prime Plaza Hotel, Denpasar, Bali, Sabtu (24/2/2018).

Hal itu disampaikan Hasto dalam diskusi bertajuk 'Kepala Daerah Asyik Inspiratif' di sela-sela Rakernas III PDIP. Hasto bercerita ia sempat mengancam akan mengganti direktur PDAM setempat jika tidak bisa membuat air mineral kemasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo bercerita soal pengembangan produk lokal di daerahnya. Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo bercerita soal pengembangan produk lokal di daerahnya. (Haris Fadhil/detikcom)

"Saat itu saya ancam direktur PDAM-nya bisa nggak bikin air minum. Dia akhirnya bisa bikin air minum. Mereknya 'Air Ku', yaitu 'Air Kulon Progo'. Ini air kemandirian," ujarnya.

Selain air mineral, Hasto menggagas usaha pemotongan batu alam oleh rakyat dengan menyediakan alat potong batu di desa-desa. Ia mengakui hasilnya tak sebagus batu potongan pabrik besar dan batu impor, tapi usaha itu bisa menggerakkan ekonomi rakyat.

"Lalu yang kecil-kecil jangan diabaikan, di Kulon Progo punya berbagai jenis batu. Dimanfaatkan misalnya batu-batu kali dipotong sendiri aja saya belikan mesin potong. Batu trotoar di depan kantor kabupaten itu bikin sendiri, beli dari produk sendiri," ucapnya.

"Nggak sebagus batu impor dari China, tapi ya ini buatan sendiri, batu ideologis," canda Hasto.

Selain Hasto, ada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam diskusi tersebut. Ia bercerita soal pemimpin yang harus dekat dengan rakyat agar program pembangunan bisa berjalan baik.

"Yang paling penting, masyarakat harus merasa dekat dengan pemimpinnya. Kalau ada gap pasti kotanya nggak bisa berkembang baik. Dari pemimpinnya yang jaga jarak pasti nggak bisa berkembang," jelas Hendrar.

Pria yang akrab disapa Hendi ini juga menjelaskan soal program kesehatan gratis bagi warga Semarang. Fasilitas ini, disebut Hendi, tak membedakan status sosial warganya.

"Kesehatan kami punya UHC (Universal Health Coverage). Orang Semarang, baik miskin atau kaya, pemerintah Semarang yang bayarin. Dulu komitmennya itu hanya warga sakit, tapi sekarang itu komitmennya semua dijamin pemerintah Semarang, asalnya kamu di kelas 3," ujar dia. (HSF/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads