"Ini bermula dari korban kena gangguan jiwa. Dua kakak beradik berobat kepada tersangka. Dari situ kemudian 2015-2016 terjadi pencabukan oleh tersangka," kata Irwansyah kepada wartawan di Mapolda Banten, Jl Syekh Nawawi Al Bantani, Kota Serang, Banten, Jumat (23/2/2018).
Pelaku ditangkap oleh jajaran polisi Polda Banten di rumahnya pada Kamis (22/2) sekitar pukul 20.00 WIB. Menurut Irwansyah, penangkapan pelaku bermula dari laporan keluarga ke Polda Banten pada April 2017 tentang pencabulan oleh pelaku kepada kembar PS dan MS (17). Saat itu keluarga korban mengadukan kehamilan salah satu anak kembarnya tersebut usai menjalani terapi pengobatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korban saat melaporkan pada 2017 lalu, sudah dalam kondisi melahirkan. Lalu kepolisian melakukan penyidikan sampai harus mencocokan DNA antara anak korban dan pelaku. Hasilnya, dari pemeriksaan DNA yang dilakukan di labolatorium Mabes Polri, DNA anak korban identik dengan pelaku SM.
"Memang kejadiannya lama karena ingin memastikan, artinya kita ingin memastikan identik tes DNA. Kemarin sudah keluar, cek anak, anaknya perempuan," katanya.
Saat dilakukan penangkapan, pelaku tidak melakukan perlawanan. Pelaku juga mengakui perbuatannya tersebut.
Kepada wartawan SM mengakui perbuatannya. Ia mengaku selain pengobatan alternatif, juga bekerja sebagai mekanik di kawasan industri Serang timur.
"Awalnya pengobatan, korbanya dua adik-kakak kembar. Sampai hamil 1 doang," ujarnya mengakui.
Pelaku diancam pidana 15 tahun penjara berdasarkan pasal 81 ayat 2 Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (bri/asp)











































