Sebelum menjadi penghuni gubuk reyot, kakek Sakri diketahui juga pernah tinggal di bekas kandang sapi bersama istri dan kedua putranya. Keluarga ini sudah beberapa kali berpindah-pindah tempat tinggal.
Foto: ist. |
"Kemarin kami sudah melihat bagaimana kondisi keluarga Pak Sakri. Kondisinya sangat memprihatinkan dan mereka juga pernah sampai tinggal di bekas kandang sapi, serta berpindah tempat tinggal," kata Camat Pangandonan, Nanang saat dikonfirmasi via telepon seluler, Kamis (22/2/2018).
Tidak bisa dihitung sudah berapa kali keluarga kakek Sakri berpindah-pindah tempat tinggal sejak 3 tahun terakhir usai pulang merantau dari Muaraenim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka ini sudah tak terhitung berapa kali pindah, sampai akhirnya mendirikan gubuk di tanah warisan berukuran 10x5 meter beberapa hari terakhir. Di tanah itulah kami dari kecamatan memberikan usul untuk didirikan rumah layak huni dari bantuan masyarakat dengan cara gotong royong," sambung Nanang.
Foto: ist. |
Rumah layak huni ini nanti akan dibangun berukuran 4x6 meter. Sedangkan untuk perlengkap rumah tangga dan listrik, ini masih dalam tahap diskusi pemerintah kecamatan dan desa setempat.
Sebelumnya, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Baturaja, Sherly Arthamila sempat menceritakan kondisi keluarga kakek Sakri. Kepada detikcom, Sherly mengaku prihatin dengan kondisi keluarga yang tinggal di gubuk reyot saat akan pergi ke sungai di dekat posko KKN.
"Saya di sini hanya KKN, kami kaget awalnya ada warga yang tinggal di gubuk berukuran 2x2,5 meter dan tidak layak huni. Untuk makan, tidur, kakek Sakri bersama istri dan anak laki-lakinya juga di gubuk itu," kata Sherly.
Foto: ist. |
Menurut Sherly, kakek Sakri harus mulai menyalakan api di depan gubuk yang beratapkan plastik dan dinding dari karung bekas saat hari mulai gelap. Selain sebagai penerangan, api juga untuk menghangatkan badan mereka dari tiupan angin malam.
"Suaminya sudah tua (Kakek Sakri), tidak lagi bisa kerja berat dan yang kerja itu hanya istrinya. Itu juga cuma cari kayu bakar di hutan dengan upah Rp 10 ribu dan kedua anaknya bisa sekolah karena ada bantuan dari pemerintah," tutupnya. (asp/asp)












































Foto: ist.
Foto: ist.
Foto: ist.