Anzeli, Anak Suku Sakai Penderita Busung Lapar

Anzeli, Anak Suku Sakai Penderita Busung Lapar

- detikNews
Jumat, 24 Jun 2005 05:37 WIB
Pekanbaru - Anzeli balita usia 2 tahun itu terkulai lemas di ruang Medical RSUD Pekanbaru. Dia adalah anak dari komunitas penduduk asli Riau, yakni Sakai yang menderita busung lapar. Dia tercatat sebagai balita ke-4 di Riau yang menderita gizi buruk.Nama Suku Sakai memang lebih tersohor ketimbang nama Riau itu sendiri. Komunitas penduduk asli Riau ini pernah menjadi perhatian dunia internasional karena mereka hidup miskin di tanah leluhurnya yang kaya akan sumber daya alamnya. Tanah suku Sakai kini menjadi lahan bisnis ladang minyak milik perusahaan raksaaa PT Caltex Pacifik Indonesia. Tanah-tanah mereka juga sudah dikavling-kavling pengusaha HPH, Perkebunan Sawit dan Hutan Tanaman Industri. Sayangnya, penduduk Sakai tidak bisa menikmati dari kekayaan alamnya itu sendiri. Mereka tetap saja menjadi penduduk miskin dan menjadi penonton terbaik melihat perut bumi mereka memuncratkan jutaan barel minyak mentah, jutaan kubik kayu serta jutaan minyak kepala sawit. Sakai tetap saja miskin dan terbelakang.Kondisi suku Sakai ini tercermina dari kondisi keluarga Anzeli anak Sakai badannya kurus tinggal tulang saja. Sudah tiga hari ini, anak pasangan Sahari (45) dan Asna (40) tergolek di RSUD Pekanbaru. Anzeli ketika di rujuk ke RSUD Pekanbaru, beratnya hanya 4,2 kilogram jauh dari berat normal yang mestinya 12 kilogram.Di ruang Medical lantai III itu, Anzeli ditemani ibunya Asna yang berpakaian kumuh. Balita itu badanya kurus dan kering, hanya terlihat tulang-tulang rusuknya yang menonjol. Kedua kakinya juga terlihat hanya tinggal kulit dan tulangnya saja. Tangan kirinya mendapat infus cairan dari tim medis. "Mamak, mamak," sesekali suara mungil Anzeli memanggil ibunya.Anzeli merupakan anak ke-4 dari lima bersaudara. Kedua orang tunya masih asli dari komunitas Sakai yang tinggal di Kecamatan Kandis Kabupaten Bengkalis-Riau. Sahari ayah kandungnya hanyalah seorang pengangguran di tanah leluhur mereka. Hidup mereka sangat miskin dan tinggal di sebuah gubuk reot di Kandis."Makan kami hanya dibantu tetangga saja. Kadang ada tetangga yang memberi kami dua muk (ukuran satu kaleng susu-red) beras. Bila tidak ada yang memberi, ya kami makan ubi, itu pun kalau ada ubi di tengah hutan. Jika tidak, ya kami tidak makan," tutur Asna kepada detikcom.Ibu dari 5 orang bocah itu, mengaku, bukannya mereka tidak ingin bekerja. Namun sudah bolak-balik mencari kerjaan, juga tidak didapatkan. Hari-hari keluarga Sakai ini hanya hidup dari belas kasihan tetangganya. Anak sulung mereka yang kini usianya 9 tahun, juga tidak mengenyam pendidikan seperti kedua orang tuanya. "Jangankan untuk sekolah, makan saja kami susah," kata Asna.Menurut Asna, Anzeli sebenarnya tiga bulan silam sudah bisa berjalan sebagaimana teman seusianya. Belakangan balita itu tak mampu berjalan lagi. Berkat bantuan tetangganya, Anzeli diantarkan ke Puskesmas terdekat. Pihak Puskesmas pun, tak mampu menangani kondisi kesehatannya. Itu makanya, Anzeli dirujuk ke RSUD Pekanbaru. "Kata dokter yang ada di Puskesmas, anak saya busung lapar," tutur Asna polos.Sebenarya Anzeli ini juga masih memiliki adik yang paling bungsu. Adiknya lahir ketika usianya sau tahun sebelas bulan. Artinya sebulan yang lalu anak bungsu Asana meninggal dunia. Air susu yang semestinya untuk adiknya itu, kini dialihkan untuk Anzeli. Tidak jelas penyakit apa yang menyebabkan adik Anzeli itu meninggal dunia."Ya mungkin juga karena busung lapar, anak bungsu ku itu meninggal," tutur Asna.Setelah tiga hari mendapat perawatan intensif dari tim medis RSUD Pekanbaru, kini berat badan Anzeli berangsur bertambah. Dari awal masuk hanya 4,2 kg, kini selama tiga hari belakangan berat badannya bertambah 7 ons, menjadi 5 kilogram. "Berat badan Anzeli berangsur bertambah," kata Ketua Staf Medis Fungsional Anak, RSUD Pekanbaru, Dahnul Elymbra kepada detikcom. (mar/)


Berita Terkait