Bau Korupsi dari Dinas Pendidikan Jawa Barat
Kamis, 23 Jun 2005 22:54 WIB
Bandung - Bau tak sedap muncul di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Diduga dinas tersebut melakukan penyelewengan anggaran program pendidikan tahun 2004 hingga mencapai miliaran rupiah. Penyelewengan anggaran ini berupa program pengadaan bangunan fisik sekolah dan laboratorium bahasa di 25 Kab/Kota se Jawa Barat. Program ini ditujukan untuk sekolah tingkat SMP, SMA dan sederajat.Dugaan ini dilontarkan Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Barat, Nursupriyanto di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, di Bandung, Kamis (23/6/2005). Menurutnya, kejadian dugaan penyelewengan itu cukup menakjubkan. Dalam waktu dekat, DPRD Jawa Barat akan segera memanggil Kepada Dinas Pendidikan Jabar, Dadang Dally, untuk diminta penjelasan berkaitan soal ketidakjelasan laporan anggaran Dinas Pendidikan Jabar itu."Ini mengerikan, banyak program pendidikan yang bikin kecewa," ungkapnya. Hampri 90 persen program pendidikan tahun 2004 tidak tepat sasaran. Program-program ini adalah mengenai rehabilitasi pembangunan fisik. Diantaranya pembangunan kelas baru, penyediaan ruang dan alat lab bahasa baru.Beberapa sekolah yang tak menerima kucuran dana itu di antaranya terdapat di Karawang, Bekasi, Subang, Bogor, Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat. Jika menerima, menurutnya kucuran dana tersebut telat dan dikucurkan pada tahun 2005. Banyak sekolah yang tidak tahu mengenai bantuan dana tersebut."Karena ada janji pencairan lantas sekolahnya bangunan duluan sebelum dananya cair. Sekarang mengutang dan bebannya diberikan kepada siswa," ungkapnya.Rencananya tiap sekolah yang sudah diajukan itu berhak mendapatkan dana program pendidikan minimal sebesar 100 juta untuk pengadaan lab bahasa. Sedangkan paling besar mendapatkan dana program pendidikan sebesar 505 Juta."Kita akan cek apakah memang dana itu sudah cair atau belum. Mandegnya dimana, apakah di provinsi atau di pemda tingkat II," ungkapnya. Dugaan penyelewengan oleh Dinas Pendidikan Prov Jabar juga terjadi untuk tahun anggaran 2005. Menurutnya, dari data laporan sementara, diperkirakan sejumlah program mengalami nasib yang sama. Diperkirakan 80 persen program pendidikan itu tidak jalan."Dana lain yang lenyap sebesar Rp 1 miliar. Itu hanya untuk program Broad Base Education atau lab skill. Hilang, kegiatannya berjalan tapi tidak ada bekasnya," ungkapnya geram.
(mar/)











































