DetikNews
Kamis 22 Februari 2018, 10:38 WIB

Metamorfosis Jaringan Teroris di Indonesia dari NII hingga JAD

Audrey Santoso - detikNews
Metamorfosis Jaringan Teroris di Indonesia dari NII hingga JAD Foto: Irjen Petrus R Golose di seminar PTIK. (Audrey-detikcom)
Jakarta - Kapolda Bali Irjen Petrus R Golose bicara soal skema metamorfosis kelompok radikal di Indonesia. Dia mengatakan jaringan teroris di Indonesia berawal dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Mantan Deputi Bidang Kerjasama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Teroris itu hari ini menjadi pembicara seminar bertajuk 'Cara Terbaik Menangani Terorisme' yang diprakarsai Mahasiswa Program Doktoral STIK/PTIK. Petrus menggantikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai pembicara.

"Metamorfosis dari jaringan teroris Indonesia berawal dari kelompok Darul Islam atau Negara Islam Indonesia," kata Petrus di Auditorium Mutiara STIK/PTIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (22/2/2018).


Petrus mengatakan Kelompok Darul Islam kemudian terpecah dan berdirilah kelompok Jamaah Islamiyah atau JI pada 1 Januari 1993. Kelompok ini kemudian berkembang dan berganti sebutan menjadi kelompok Majelis Mujahidin Indonesia pada 5 Agustus 2000.

"Pada September 2008, kelompok Majelis Mujahidin Indonesia atau MMI berkembang dan dikenal dengan sebutan kelompok Jamaak Ansharut Tauhid," ujar Petrus.

Masih kata Petrus, sementara kelompok NII dalam perkembangannya eksis dengan sebutan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Dari JAT dan MIB, tambah dia, kemudian berkembang jaringan-jaringan teroris Jamaah Anshorut Syariah (JAS), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).

"Dari keduanya (JAT dan MIB) kemudian muncul jaringan-jaringan teroris JAS, MIT, JAD dan JAK," ucap Petrus.

Petrus juga mengulas soal aksi teror dalam tiga tahun terakhir. Tercatat ada 19 kali serangan dari kelompok terorisme dan orang yang terpapar radikalisme atau yang disebut lonewolf dan leaderless jihad dalam kurun itu. Serangan terbanyak terjadi di 2016.

"Di antaranya Bom Thamrin pada Januari, Bom Polres Surakarta pada Juli, Bom Gereja Santo Yosef pada Agustus, Serangan INP pada September, Bom Gereja Oikumene pada Oktober, rencana serangan teror kantor Polres Tangerang Selatan dan kantor Polsek Senen pada Desember," jelas dia.

Belakangan, imbuh Petrus, teroris menjadikan anggota Polri sebagai target serangan mereka. "2015, sebanyak dua polisi terluka. 2016, satu orang meninggal dan 9 luka-luka. 2017, tiga orang meninggal dan 14 orang terluka. 2018 tiga polisi terluka," tutur dia.

Selain Petrus, Profesor Rohan Gunaratna dari Nanyang Technological University Singapura dan Profesor Andrew Tan dari Macquarie Australia juga menjadi pembicara di seminar ini.
(aud/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed