detikNews
Rabu 21 Februari 2018, 16:09 WIB

Marak Kekerasan ke Pemuka Agama, Nusron: Pasti Ada Dalang Intelektual

Yulida Medistiara - detikNews
Marak Kekerasan ke Pemuka Agama, Nusron: Pasti Ada Dalang Intelektual Nusron Wahid (Dok. BNP2TKI)
Jakarta - Peristiwa penyerangan terhadap tokoh agama terjadi di beberapa tempat dan dilakukan orang yang diduga gila. Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Indonesia I (Sumatera dan Jawa) Partai Golkar Nusron Wahid menduga ada aktor intelektual yang sebenarnya di balik peristiwa itu.

"Penyerangan ulama, kami mohon polisi untuk segera mengusut secara tuntas aktor dan dalangnya. Kami tidak yakin kejadian ini kejadian yang terjadi tiba-tiba begitu saja. Pasti ada aktor intelektual atau dalang yang melakukannya," kata Nusron di Restoran Batik Kuring, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (21/2/2018).


Nusron mengatakan tidak mungkin ada peristiwa penyerangan terhadap ulama yang dilakukan oleh orang gila secara serentak di beberapa tempat. Ia menduga ada orang yang menunggangi dengan tujuan politik.

"Tidak mungkin orang gila tanda petik kok tiba-tiba secara serentak melakukan penyerangan kepada ulama itu secara simultan dan berbarengan di mana-mana. Ini pasti ada desainernya, ada tanda petik orang gila tanda petik yang menggerakkan orang gila untuk tujuan yang gila. Pasti ada yang mendesain, menunggangi, dan pasti tujuannya politik," sambungnya.

Ia menduga peristiwa penyerangan itu untuk menurunkan citra polisi dan menciptakan isu polisi tidak kompeten menangani kasus tersebut. Kedua, ia menduga ada upaya menciptakan pembentukan persepsi pemerintah tidak dapat melindungi warganya.

"Tujuannya ada dua, pertama, mencitrakan polisi tidak berkompeten atau inkompetensi polisi; yang kedua, membentuk opini dan persepsi kepada pemerintah. Bahwa pemerintah tidak mampu menciptakan perlindungan dan rasa aman bagi WNI," kata Nusron.

"Pasti ada unsur politiknya, maka harus diusut secara tuntas. Makanya kami minta polisi harus cari dalangnya sampai tuntas," sambungnya.


Ia menyebut polisi harus bekerja cepat mencari bukti dan membongkar aktor intelektual. Serta melakukan upaya pencegahan.

"Inilah intelijen harus bergerak cepat. Bukti-bukti kan material pasti susah, tapi intelijen itu harus aktif karena sifatnya itu preemtif," ujarnya.
(yld/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed