Salah seorang polisi yang bertugas di Sabhara Polres Pandeglang, Bripda Muhammad Bagja Barotoyudo, menyempatkan diri untuk menyuapi orang gila yang ia temui di jalan.
Ceritanya, saat ia tengah lepas piket untuk mengatur lalu lintas pagi hari di pasar Antensari, Pandeglang, ia menumukan orang gila yang tengah duduk di depan salah satu toko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena di Pandeglang kan kemarin ada berita hoax yang sampai ada orang digebukin dituduh PKI mau nyerang ulama. Tapi ternyata orang itu setelah diperiksa orang gila," kata Baja saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/2/2018).
Langkah yang ia lakukan selain atas atensi pimpinan yang memerintahkan untuk memberi pengertian kepada masyarakat agar tak termakan berita hoax. Ia juga ingin memberi contoh bahwa isu tersebut tidak benar dan tidak selayaknya orang gila diperlakukan seperti yang saat itu dilakukan sekelompok masyarakat di Pandeglang.
"Saya juga kan keliling ke pesantren buat ngasih pengertian soal berita hoax itu. Perintah pimpinan juga kalau menemukan orang gila dipastikan dulu, baru kemudian ya dikasih makan lah setidaknya," ungkapnya.
Baja mengatakan, di Pandeglang sendiri, sebenarnya tidak lebih dari 10 orang yang mengidap gangguan jiwa yang biasa berkeliaran di Pandeglang.
"Nggak banyak, paling nggak lebih 10 orang, karena yang biasa berkeliaran kan itu-itu saja orangnya," kata dia.
Seperti diberitakan detikcom sebelumnya, pada Sabtu (10/2/2018). Salah seorang pria bernama Wahyu babak belur dihakimi massa lantaran dituduh PKI dan hendak menyerang ulama. Peristiwa itu terjadi saat Wahyu terlihat mondar-mandir di rumah H Encep berjarak 500 meter dari rumah tersebut.
Mendapat kabar Wahyu dimassa, polisi lalu meluncur ke lokasi di Cikole, Pandeglang, untuk mengamankan Wahyu. Setelah dilakukan pemeriksaan, Wahyu ternyata mengalami gangguan jiwa. (asp/asp)











































