Aksi Pawang Hujan di Pilkada Solo
Kamis, 23 Jun 2005 17:17 WIB
Solo - Kampanye Pilkada di Solo berakhir hari ini, Kamis (23/6/2005). Pasangan Hardono - Dipokusumo yang didukung Partai Golkar, Partai Demokrat dan PKS,menggunakan kesempatan kampanye terakhirnya di Stadion R Maladi, Solo. Paranormal pun didatangkan untuk mengusir hujan.Hujan mungkin dianggap sebagai berkah oleh sebagian besar umat manusia. Tapi bagi yang sedang menggelar kampanye, hujan dinilai sebagai kendala tersendiri yang dapat mengganggu acara. Empat hari sebelumnya, Kota Solo selalu diguyur hujan di sore hari. Banyak massa peserta kampanye terbuka memilih pulang atau berteduh sehingga yang bertahan tinggal sedikit.Dalam kampanye Hardono - Dipo Senin lalu di Lapangan Mojosongo misalnya, acara orasi belum dimulai tapi hujan sudah mengguyur dengan lebat sehingga massa pendukung yang telah berkumpul nyaris habis. Rupanya kejadian tersebut menjadi pengalaman tersendiri untuk diantisipasi.Pada kampanye terakhir pasangan tersebut, pawang hujan didatangkan. Empat lelaki terlihat duduk mengitari tungku api berisi arang yang dibakar di bawah tiang bendera, tepat di belakang panggung. Sesekali salah satu dari mereka yang mengenakan pakaian hitam-hitam memasukkan dupa ke atas tungku. Asap tebal dan bau menyengat segera menyebar.Perlengkapan lain juga disediakan. Tembakau dan sebatang rokok yang konon dipersembahkan kapada roh halus penunggu stadion, bunga dalam panci dan garam yang sesekali dijumput untuk dimasukkan ke api juga disediakan. Tidak ketinggalan sapu lidi dipasang berdiri yang di beberapa ujungnya tertancap cabe merah dan bawang merah dijaga empat orang itu agar tetap tegak berdiri.Entah kebetulan atau tidak, sore ini Kota Solo memang tidak turun hujan. Sebaliknya justru panasnya sangat terik.Tapi tak ada hujan, massa tetap saja pulang lebih cepat sebelum orasi selesai. Bisa jadi mereka hengkang karena tidak kuat disengat matahari. Atau karena memang sudah jenuh mendengar janji-janji para calon walikota.Pasangan Hardono - Dipo sebelumnya berjanji akan mendatangkan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono dan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Hadi Utomo. Namun ternyata keduanya tidak datang. Jurkam dari Jakarta yang tampak duduk dipanggung kehormatan hanyalah ekonom Sri-Edhi Swasono dan Wakil Ketua MPR Mooryati Sudibyo.Acara orasi terus mengalir diisi secara bergantian dengan sesekali diselingi lantunan lagu-lagu dangdut. Empat 'penjaga tungku' itu sudah tidak lagi duduk terpekur di tempatnya, mungkin terlalu yakin bahwa hujan telah benar-benar berhasil diusir. Tidak lama kemudian rintik gerimis pun datang. Seketika itu juga keempat itu langsung berbalik lagi mengitari tungku.Arang di tungku yang hampir habis ditambah dan terus dikipasi agar terbakar. Dupa kembali dimasukkan. Wajah mereka sekarang jauh lebih tegang dibanding sebelumnya. Namun hingga kampanye dibubarkan gerimis masih tetap turun. Massa memilih bubar, sedangkan penyanyi dangdut terus menyanyi.Pilkada 27 JuniSelama tiga hari kedepan, Kota Solo akan memasuki masa tenang. Senin 27 Juni mendatang akan digelar pemugutan suara untuk memilih pasangan walikota dan wakil walikota. Empat pasangan beradu.Dua daerah lain di Surakarta yang juga menggelar Pilkada 27 Juni nanti adalah Kabupaten Sukoharjo yang diikuti empat pasang calon dan Boyolali yang diikuti lima pasang calon.
(nrl/)











































