DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 13:17 WIB

Terkejutnya Todung Diminta Jokowi Jadi Dubes Norwegia dan Islandia

Ray Jordan - detikNews
Terkejutnya Todung Diminta Jokowi Jadi Dubes Norwegia dan Islandia Todung Mulya Lubis (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Pakar hukum Todung Mulya Lubis ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Norwegia dan Islandia. Apa cerita Todung bisa menjadi dubes dua negara tersebut?

Todung mengaku terkejut saat mendapat kabar dari Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi soal dirinya akan dijadikan dubes oleh Presiden Jokowi. Todung menyebut tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

"Saya dipanggil oleh Menlu, ketika saya pulang dari luar negeri dan dikatakan bahwa Presiden meminta saya untuk berangkat ke Oslo sebagai dubes. Nah, saya terkejut, saya sendiri tidak diberi tahu sebelumnya, tapi saya langsung ditunjuk ke Oslo dan sehingga Oslo itu tempat yang sangat jauh juga, tempat yang sangat dinamis untuk HAM, lingkungan hidup, energi," kata Todung seusai pelantikan dirinya menjadi dubes di Istana Negara, Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Todung menilai Norwegia dan Islandia merupakan wilayah strategis untuk kerja sama antarnegara, terutama di bidang lingkungan hidup dan energi. Namun mesti banyak kebijakan yang dilakukan untuk membawa investasi dari Norwegia masuk ke Indonesia.

"Banyak sekali perjanjian untuk melakukan hubungan kebudayaan, pendidikan dengan Norwegia, dan saya cukup excited untuk berangkat ke sana," katanya.

Todung mengatakan dirinya sudah malang melintang di dunia akademis dan profesional. Karena itu, dengan ditunjuknya dia menjadi dubes, ini merupakan tantangan baru baginya.

"Ini mungkin satu tantangan baru yang saya akan hadapi dan dengan semua jejaring, network internasional yang saya punya. Saya percaya mampu mendayagunakan semua network, jejaring dan saya berharap bahwa banyak yang saya buat untuk republik tercinta ini," katanya.

Selain itu, Todung senang karena Norwegia merupakan negara dengan tingkat keaktifan soal isu HAM yang tinggi. Dia merasa cocok ditempatkan di Norwegia dan Islandia.

"Di sana banyak sekali pusat studi HAM dan juga negara yang sangat aktif dalam lingkungan hidup. Jadi saya bertanya dalam hati saya bahwa saya ditempatkan di Oslo terutama karena memang interaksi HAM dengan negara-negara, seperti Norwegia, Swedia, Islandia, sangat dinamis. Sosok saya yang memang cukup lama bekerja dalam bidang HAM selama ini oleh Presiden sebagai sosok yang tepat untuk bisa mewakili negara ini dalam aksi meningkatkan HAM di Indonesia dan memberikan pengertian kepada negara-negara barat bahwa kompleksitas masalah HAM di Indonesia itu begitu luar biasa dan tidak semudah yang dibayangkan. Jadi harus ada semacam understanding," jelasnya.
(jor/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed