DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 09:48 WIB

Memoar Kwik Kian Gie

Menjadi Intel di Belanda demi Bebaskan Irian Barat

Sudrajat - detikNews
Menjadi Intel di Belanda demi Bebaskan Irian Barat Kwik Kian Gie setelah diperiksa KPK beberapa waktu lalu. (Nur Indah/detikcom)
Jakarta -

Selama ini setiap operasi militer yang tercatat dalam sejarah sepertinya cuma mengisahkan perjuangan para tentara. Tak terkecuali dalam Operasi Pembebasan Irian Barat dari Belanda pada 1962. Padahal kala itu ternyata ada sejumlah mahasiswa Indonesia di Belanda yang turut berperan dengan segala risikonya.

Mereka antara lain Mohammad Samadikun dan Jimmy Tjan Hok Soei yang kuliah di Rotterdam, Basuki Gunawan dan Ramli Kasim (Amsterdam), Krisno Nimpuno dan Tan Hoan Koen (Delft), Frans Kho Mariakasih (Mijmegen), serta Sediono (Momi) Tjondronegoro dan Kwik Kian Gie.

"Pemimpin kami Samadikun. Namun tampaknya Frans memegang peranan penting tapi baru belakangan kami mengetahui dia termasuk kelompok intel," tulis Kwik dalam memoarnya, 'Menelusuri Zaman', yang dikutip detikcom, Selasa (20/2/2018).

Krisno Nimpuno, siswa Papua, Sri (istri Krisno), Tan Hoan Koen (Foto: Dok. Kwik Kian Gie)Krisno Nimpuno, siswa Papua, Sri (istri Krisno), Tan Hoan Koen (Foto: Dok. Kwik Kian Gie)

Berbagai aktivitas mereka lakukan seperti melobi sejumlah politisi Belanda di parlemen yang pro-pengembalian Irian Barat agar jangan sampai terjadi peperangan. Hasil dari sejumlah diskusi formal atapun informal dengan mereka lambat laut berkembang cukup banyak politisi, pengamat, cendekiawan, dan media massa yang pro atas diserahkannya Irian Barat.

"Partai Buruh pro-diserahkannya Irian Barat dan ketua fraksinya di parlemen, J. de Kadt, menyarankan supaya Indonesia menembak mati beberapa serdadu Belanda," tulis Kwik.

Kalau ini terjadi, Kadt akan mengerahkan demonstrasi kaum ibu. Dia yakin dengan demikian Belanda akan menyerahkan Irian Barat op een presenter blaadje (di atas sebuah baki). Di sisi lain, ada sebagian elite Belanda yang tetap ingin mempertahankan Irian Barat dengan argumentasi, secara etnis orang Irian termasuk kelompok Melanesia, bukan Melayu.

"Semua diskusi dengan para pemimpin dan politisi Belanda kami tulis dalam bentuk laporan kepada Kolonel Wadli, atase militer di KBRI, Bonn, Jerman Barat," tulis Kwik.

Upaya lain yang dilakukan adalah melobi para mahasiswa Papua yang sedang belajar di Belanda. Mereka dibujuk agar mau ke Indonesia secara rahasia, mendadak, dan memberikan konferensi pers di Jakarta. Untuk menghindari kecurigaan, para mahasiswa Papua itu dibawa ke Brussel, Belgia, melalui jalur darat. Dari sana mereka mendapatkan tiket untuk ke Jakarta dari Direktur KLM, Van Konijneburg, yang bersahabat dengan Bung Karno dan menjadi dosen tamu di UI.

Ramli Kasim, siswa Papua, Momi Sediono Tjondronegoro, M Samadikun, Krisno NimpunoRamli Kasim, siswa Papua, Momi Sediono Tjondronegoro, M Samadikun, Krisno Nimpuno (Foto: Dok. Kwik Kian Gie)


Selain itu, Kwik, yang menjadi staf lokal di KBRI, bertugas mengumpulkan berbagai informasi tentang kondisi di Irian Barat. Dia antara lain mendapatkannya dengan mengumpulkan berita-berita di koran dan merekam semua siaran radio di Belanda.

Dari siaran percakapan langsung lewat radio antara prajurit Belanda di Irian Barat dan keluarga mereka di Belanda bisa terdeteksi ada berapa kapten dan kolonel di suatu kabupaten. Juga bisa terdeteksi di titik wilayah mana saja yang kosong dari pendudukan tentara Belanda. Di situlah pasukan TNI kemudian diterjunkan.

"Tapi sebetulnya saya pribadi baru tahu kalau semua yang dilakukan itu untuk operasi militer ya belakangan. Saya juga tidak kenal Pak Benny (Moerdani), tapi kemudian setelah dia menjadi Panglima ABRI saya bersahabat dengannya," kata Kwik kepada detikcom melalui telepon, Selasa (20/2/2018).




(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed