Puteh Bayar Sewa Ruang di RS Thamrin Rp 900 Ribu/Hari
Kamis, 23 Jun 2005 13:25 WIB
Jakarta - Sejak 17 Juni 2005, Abdullah Puteh menginap di RS Internasional MH Thamrin. Dia mengaku sakit, sehingga KPK masih menunda untuk membawanya ke rumah tahanan. Per harinya, Puteh membayar ruang perawatan Rp 900 ribu.RS ini terletak di Jl. Salemba Tengah, Jakarta Pusat. Puteh memilih ruang 805 untuk menjalani perawatan atas sakit yang dideritanya: keluhan jantung dan luka lambung. Ruangan ini merupakan ruang VVIP bernama Diamond Room. Ruangnya terletak di lantai 8. Satu lantai di atasnya, lantai 9, terdapat helipad. Ruang perawatan yang ditempati Puteh memang luks. Selain ada tempat tidur bagi pasien, ruang perawatan itu juga ada ruang tamu dan kamar mandi. Terdapat juga sofa dan meja. "Per hari, tarifnya Rp 900 ribu," kata Direktur Humas RS Thamrin Dr Trisna M Mudijana kepada wartawan saat ditemui di ruang kerjanya di RS itu, Kamis (23/6/2005). Trisna menjamin, meski kondisi Puteh tetap stabil dan bisa berjalan sendiri, namun Puteh tidak akan bisa kabur. "Pasien tidak bisa kabur, baik melalui pintu depan atau dengan helikopter melalui helipad di lantai 9," kata dia. Meski di RS ada helipad di lantai 9, kata Trisna, pihak RS tidak bisa sembarangan mengatur lalu lintas helikopter di helipad itu. "Tidak bisa asal mendarat, harus ada koordinasi dengan Polda Metro Jaya," ujar dia. Di ruang perawatan yang nyaman itu, Puteh memang tidak ingin ditemui wartawan. Puteh telah meminta manajemen RS untuk melarang wartawan mendekat. Akhirnya, wartawan pun hanya bisa terdampar di lobi, di lantai 1. Ada petugas keamanan yang siap menghalau wartawan yang ingin naik ke lantai 8. Kondisi PutehTrisna juga membeberkan kondisi Puteh. Trisna membenarkan kondisi Puteh stabil. Juga tidak dipasangi infus atau selang oksigen. "Karena tidak melakukan operasi besar, Pak Puteh memang tidak diharuskan menggunakan selang infus maupun alat bantu pernafasan," kata Trisna memberi alasan. Selama dirawat inap di RS ini, kata Trisna, Puteh hanya diberi obat antinyeri dan obat-obat lain. Saat ditanya wartawan, apabila memang kondisinya begitu berarti Puteh bisa saja mengkonsumsi obat tersebut di ruang tahanan, Trisna tidak mau menjawab. "Itu nanti yang jawab tim dokter saja," kata dia. Trisna juga tidak bisa memastikan apakah Puteh bisa keluar dari RS apabila KPK melakukan penjemputan paksa. "Kita tidak bisa menduga. Nantinya yang bisa menjawab adalah tim dokter. Kita tidak tahu bila nanti tiba-tiba Pak Puteh terjatuh bila dibawa. Kan kondisi orang berbeda-beda," kata dia. Seorang wartawan sempat menyelinap masuk ke ruang perawatan Puteh, Kamis (23/6/2005). Saat itu, Puteh tampak segar. Tidak sedang berbaring. Puteh tampak bercakap-cakap dengan tamunya. Puteh tidak mau diwawancara.
(asy/)










































