Pendemo Bank Jateng Bakar Tikus

Dana Kepribadian Bengkak

Pendemo Bank Jateng Bakar Tikus

- detikNews
Kamis, 23 Jun 2005 13:00 WIB
Semarang - Koruptor sering kali disimbolkan dengan tikus. Mungkin karena itulah, sekelompok orang yang menamakan Komite Aksi Mahasiswa Semarang (KAMAS) membakar tikus untuk mendesak pengusutan korupsi di Bank Jateng senilai Rp 1,739 miliar.Aksi bakar tikus itu dilakukan di pintu gerbang Kantor Bank Jateng, Jl Pemuda, Semarang, Kamis (23/6/2005). Massa aksi yang hanya belasan orang itu juga membawa spanduk bertuliskan "Tangkap koruptor Bank Jateng", Tikus kok pegang duit", dan lain-lain.Pada awalnya, pendemo ingin masuk ke halaman tapi tidak diperbolehkan satpam. Karena jumlah pendemo tak sebanding dengan aparat keamanan, para pendemo memilih berorasi selama beberapa menit sebelum akhirnya membakar dua tikus yang ditaruh dalam sangkar.Dalam orasinya, Korlap Hamid Alfarizi menyatakan, dugaan korupsi itu terjadi pada tahun anggaran 2003-2004 pada pos dana pelatihan kepribadian. Dengan menggandeng Natasha Personel Image Development (NPID) sebagai instruktur, Bank Jateng dinilai membengkakkan dana."NPID itu lembaga tidak berbadan hukum. Direkturnya, Upi Thaib adalah menantu mantan Gubernur Jatim Basofi Sudirman. Ada proses kongkalikong antara bank dengan lembaga itu. Ini merugikan nasabah yang notabene adalah masyarakat kecil," katanya.Dugaan korupsi Bank Jateng sebetulnya sudah ditangani Kejaksaan Tinggi Jateng. Beberapa waktu sebelumnya, Kejati telah memanggil Direktur NPID Upi Thaib dan Kabiro SDM Bank Jateng Wirawan. Namun keduanya tidak pernah hadir. Tak ada satu pun pejabat Bank Jateng yang menemui pendemo. Usai membakar tikus, mereka membacakan pernyataan sikap yang intinya meminta bank memberantas korupstor. Mereka juga mengancam akan melaporkan kasus tersebut ke KPK.Kabiro Perencanaan Bank Jateng Bambang Widianto yang sempat ditemui wartawanmenyerahkan sepenuhnya kasus tersebut pada lembaga penegak hukum. "Kalau kasusnya sudah di penegak hukum ya silakan mereka mendemo kejaksaan. Kami sudah bekerja sesuai aturan," katanya.Ia juga menjelaskan, tak ada yang aneh dalam menunjuk NPID sebagai instruktur pelatihan. Pembengkakan anggaran hanya dikarenakan banyaknya karyawan yang ikut pelatihan. Awalnya hanya front liner, tapi selanjutnya pihaknya melatih seluruh karyawan yang berjumlah 2.400 orang."NPID itu lembaga resmi yang bergerak di banyak bidang di Surabaya. Memang benar mereka punya butik, tapi juga punya jasa instruktur pelatihan. Jadi kami tidak salah menunjuknya sebagai rekanan," kata Bambang yang didampingi beberapa pejabat Bank Jateng itu. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads