Anwar Nasution: Saya Sering ke Luar Negeri karena Diundang
Kamis, 23 Jun 2005 11:06 WIB
Jakarta - Bisik-bisik di luar, Anwar Nasution menjadi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang paling sering berkunjung ke luar negeri. Anwar sendiri mengakui hal itu. Tapi, Anwar mengaku dirinya ke luar negeri untuk menghadiri undangan, demi kepentingan negara. Anwar yang baru saja tiba dari kunjungan ke Helsinki, Finlandia, ini mengakui hal ini dalam wawancara dengan wartawan detikcom, Hendi Suhendratio, di ruang kerjanya, Gedung BPK, Jl. Gatot Subroto, Rabu (22/6/2005) sore. Anwar perlu diklarifikasi tentang bisik-bisik yang sudah menjadi perbincangan hangat banyak orang itu. Anwar juga menanggapi pemberitaan detikcom yang dipublikasikan Minggu (19/6/2005) dengan judul 'Anwar Dikabarkan Ketua BPK yang Paling Sering ke LN'. Dalam berita itu, disebutkan bahwa Anwar sering pergi ke luar negeri. Setiap bulan, tidak pernah absen berkunjung ke negara asing. Kepergiannya dianggap pemborosan, karena diduga dibiayai BPK. Benarkah itu? Anwar menanggapi hal itu. Berikut petikan wawancara dengan Anwar: Benarkah Bapak sering ke luar negeri?Saya sudah baca berita di media Anda. Saya tidak berharap untuk dikoreksi, tidak perlu. Saya cuma jelaskan sama 'you' ya, saya jelas bahwa lain dengan Ketua BPK yang lalu-lalu itu, saya jelas diundang. Mana ada orang Indonesia yang bicara kayak begini (jadi pembicara di luar negeri). Saya ini orang hebat. Saya tidak minta 'you' mengubah itu (berita). Dibaca luas (masyarakat), saya juga tidak tersinggung itu. Saya ke luar negeri itu untuk kepentingan nasional. Ini masalah Aceh, ini jelas kepentingan dunia, dunia sangat concern dengan ini.Apa yang Anda sampaikan dalam kunjungan ke luar negeri? Tujuan kita bagaimana meyakinkan dunia bahwa kita serius untuk membangun kembali Aceh. Bahwa bantuan untuk Aceh itu akan sampai pada tujuannya. Sebelum konferensi itu ada lobi, setelah konferensi itu harus diyakinkan lagi, supaya masuk uangnya itu. Supaya ada uangnya itu kita harus pergi ke sana. Untuk pergi ke sana itu harus ada ongkos.Setiap kunjungan ke luar negeri, ongkos yang Anda gunakan dari mana? Ini kepentingan nasional, bukan kepentingan pribadi. Nah itu, bagaimana pentingnya menimba pengalaman negara lain, bagaimana membuat BPK itu independen.Apa yang didapat dari kunjungan ke luar negeri itu? Bagaimana kita itu memberantas penggelapan pajak, nah itu kita pelajari dari situ, untuk mengatasi kesinambungan dari anggaran belanja negara. Di Indonesia itu utang seabrek-abrek, untuk apa? Coba lihat anggaran kita itu, sepertiga untuk bayar utang. Utang siapa? Utang untuk berbagai perbankan itu, sepertiga lagi untuk daerah, sepertiga untuk pusat. Yang di pusat ini kebanyakan untuk subsidi. Peneriamaan pajak rendah, 14% dari rasio penerimaan pajak, dunia lain (negara lain) itu 30-40%.Itu yang saya pejalari, bagaimana peranan BPK dalam meningkatkan penerimaan pajak, bagaimana supaya penerimaan pajak kita bisa meningkat, bagaimana kita bisa bayar utang, bikin jalan, bagaimana kita menutup kebocoran itu. Kebocoran utang kita itu, bukan utang APBN yang normal itu kosong. Bolongnya itu adalah BUMN, utamanya bank-bank itu, Mandiri, BRI, BNI. Ini bolong besar. Depkes, Depag, Pertamina juga.
(asy/)











































