Bocah Lemas Dibawa Bapaknya Ngamen, KPAI: Ini Melanggar Hak Anak

Samsdhuha Wildansyah - detikNews
Kamis, 15 Feb 2018 19:57 WIB
Foto: Viral bocah dijadikan pengemis (Instagram/@nanaaelena)
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus bocah bernama MU (11 bulan) yang dibawa bapaknya Zalfur (61) mengamen agar orang-orang iba. KPAI menegaskan, ini melanggar hak anak.

Komisioner KPAI bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati, mengapresiasi jajaran Polres Metro Jakarta Pusat yang cepat mengamankan pengamen Zalfur dan putranya. Dia menyesalkan Zalfur membawa anaknya mengamen.

"Ini jelas pelanggaran hak anak," kata Ai Maryati dalam jumpa pers di Markas Polres Metro Jakarta Pusat, Kamis (15/2/2018).

 Bocah Lemas Dibawa Bapaknya Ngamen, KPAI: Ini Melanggar Hak AnakSuasana jumpa pers Foto: Samsdhuha Wildansyah/detikcom

Ai Maryati mengatakan, tidak dibenarkan dengan alasan apapun membawa anak mengamen, apalagi hingga malam hari dan anak dalam keadaan lemas. Karena itu, sejak kasus ini viral hingga Zalfur dan putranya diamankan, dirinya langsung berkoordinasi dengan Polres Metro Jakarta Pusat.

Menurut Ai, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga ikut terlibat. Demikian pula dengan Dinas Sosial DKI Jakarta. Semua berkoordinasi untuk penyelesaian kasus ini.


Dari pemeriksaan, diketahui Zalfur dan istrinya Rochma Hariyati alis Bela (35) serta 4 orang anaknya tinggal menggelandang di wilayah Tanah Abang. Untuk menghidupi keluarga, Zalfur mengamen sambil membawa MU.

Zalfur biasa membawa MU mengamen di wilayah Jakarta Pusat, salah satunya di wilayah Sabang. Dia sengaja membawa anaknya agar orang-orang yang lewat iba dan mau memberi uang.

Jumpa pers kasus bapak bawa anak untuk mengamen di JakpusJumpa pers kasus bapak bawa anak untuk mengamen di Jakpus Foto: Samsdhuha Wildansyah/detikcom


Sejauh ini polisi menyimpulkan belum ada unsur pidana dalam kasus ini. MU adalah anak kandung Zalfur dan istrinya, bukan bocah sewaan seperti ramai diisukan sebelumnya.

Soal dugaan MU diberi obat penenang atau obat tidur oleh Zalfur saat dibawa mengamen, polisi menyatakan hasil pemeriksaan sementara hal itu tidak ditemukan. Polisi juga tidak menemukan ada tanda-tanda kekerasan di tubuh MU.


Terkait hal tersebut, Ai Maryati, menyatakan penyelesaian kasus ini memang perlu dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait agar ada jalan keluar terbaik. Jelasnya, Zalfur dan istrinya perlu dibina agar hal ini tidak terulang atau ditiru oleh penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya.

"Kondisi-kondisi ini tentu membutuhkan intervensi secara sosial baik jaminan hidupnya, juga bagaimana pembinaan pada kelompok yang rawan ini supaya tidak melakukan hal-hal yang seperti kita saksikan ini," ujar Ai Maryati.

"Penegakan hukum ini tentu bukan penegakan hukum yang buta mata. Tetapi tetap di pihak lain harus membutuhkan intervensi bagaimana perlindungan sosial ini bisa ditegakkan kepada kelompok rentan ini. Saya kira posisi KPAI tetap, perlindungan kepada anak harus diutamakan. Tidak ada alasan motif ekonomi, sosial, kemiskinan dan lain sebagainya, ini harus menjadi instrumen ketika penegakan huk akan dilakukan oleh pihak yang berwenang.

Lanjut Ai Maryati, KPAI selanjutnya merujuk anak-anak ini agar berada di bawah perlindungan Dinas Sosial untuk mendapatkan rehabilitasi dan pemenuhan hak sipil, supaya menerima akses kesejahteraan dari pemerintah.

"Harapannya agar Jakarta benar-benar terbebas dari praktik eksploitasi siapapun dia tidak dibenarkan, dan dengan alasan apapun, sekalipun untuk menyambung hidup. Inilah pekerjaan panjang kita agar mampu menyampaikan informasi dan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat," jelasnya. (hri/idh)