Persediaan Air Payah, Puskesmas Repot Tangani Pasien Muntaber
Rabu, 22 Jun 2005 18:41 WIB
Tangerang -
Kegiatan bersih-bersih pasien muntaber yang mencret-mencret terhambat. Penyebabnya air yang mengucur dari keran mandek. Petugas kesehatan pun kerepotan dibuatnya.Kondisi memprihatinkan ini terjadi di Puskesmas Pakuhaji, Jalan Saadullah, Pakuhaji, Tangerang, Banten. Wabah muntaber di Kecamatan Pakuhaji ini sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Padahal sejak tanggal 13 Juni 2005 hingga hari ini, Rabu (22/6/2005), Puskesmas ini sudah merawat 143 orang, 59 di antaranya adalah balita. Hari ini tinggal 14 orang yang dirawat. Mereka terbagi di dua tempat, yakni aula dan rumah dinas kompleks Puskesmas.Kepala Puskesmas dr Dewi Anita Etikasari mengakui adanya masalah terkait persediaan air di toilet yang tidak memadai. Ada salah satu toilet yang airnya tidak mengucur, sehingga harus menggunakan selang yang cukup panjang dari toilet lain."Untuk pasien balita saja, terkadang ibunya membiarkan jika anaknya mencret-mencret di tempat tidur beralaskan terpal," tutur dr Dewi blak-blakan.Menurut dia, wabah muntaber belum pernah terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Itu sebabnya Puskesmas yang berada tepat di pinggir sawah ini tidak siap sepenuhnya dalam menghadapi wabah ini.Bahkan para dokter sempat kewalahan pada Sabtu lalu, 18 Juni 2005, ketika jumlah pasien mencapai 22 orang, sementara stok cairan infus habis."Stok obat kami kan biasa-biasa saja. Kami tidak menyangka malam minggu itu jumlah pasiennya membludak. Untunglah gudang obat yang ada di Cikokol langsung mengirim pasokan obat," urai dr Dewi.Untuk saat ini, papar dia, persediaan obat cukup, meliputi stok oralit, obat diare, dan cairan infus. Setiap malam, Puskesmas menyiapkan dua dokter jaga untuk mengantisipasi ada pasien yang datang pada malam hari.Tiba-tiba Muntah dan MencretMenurut keterangan para keluarga korban yang ditemui di Puskesmas Pakuhaji, korban tiba-tiba saja mengalami muntah-muntah dan mencret-mencret.Hal ini seperti dituturkan Amang (36) warga Kampung Bojong, Desa Laksana, Pakuhaji. Putranya bernama Seli (15) menderita muntaber pada Selasa siang, 21 Juni 2005."Tiba-tiba dia kena mencret dan muntah-muntah. Itu tiba-tiba saja pada siang hari. Padahal paginya masih sarapan dan main sama teman-temannya," urai Amang.Setelah mencret dan muntah, wajah Seli yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional tingkat SMP ini langsung terlihat cekung. Sore harinya Seli dibawa ke dokter dan diberi obat."Tapi anak saya malah makin parah sakitnya. Akhirnya tetangga saya yang baru saja sembuh dari penyakit yang sama menyarankan untuk membawa Seli ke Puskesmas. Tetangga saya itu baru saja keluar dari Puskesmas kemarin," kata Amang.Seli kemudian dibawa oleh ibunya ke Puskesmas Pakuhaji yang berjarak sekitar 800 meter dari rumahnya. Sementara Amang yang sehari-harinya menarik becak di Teluk Gong, Tangerang tidak ikut karena harus mencari nafkah. Saat ditemui detikcom Rabu sore, Seli sedang tertidur lelap. Di lengan kirinya tampak terpasang selang infus.Muhammad Pudin (5) mengalami hal serupa. Dia mendapat serangan muntaber secara mendadak pada Rabu dinihari ini pukul 04.00 WIB. Sebelumnya tidak ada gejala apa pun."Anak saya tiba-tiba sakit jam empat pagi tadi, mencret dan muntah-muntah. Saya bingung. Padahal malamnya biasa-biasa saja, masih sempat mengaji. Pagi harinya Pudin langsung saya bawa ke Puskesmas," tutur sang ibu, Yani (35) warga Kayu Agung, Pakuhaji.Berkat penanganan tim medis, Yani bisa sedikit bernafas lega karena pada Rabu sore ini Pudin tidak lagi muntah-muntah, meski masih tetap mencret-mencret. Ibu dari tiga anak yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini mengaku belum mendapat tagihan biaya dari Puskesmas.
(sss/)










































