DetikNews
Rabu 14 Februari 2018, 16:38 WIB

Sepucuk Surat Bukti Kedekatan Sukarno dan Jenderal Nasution

Aryo Bhawono - detikNews
Sepucuk Surat Bukti Kedekatan Sukarno dan Jenderal Nasution Foto: Fuad Hasyim
Jakarta -

Sepucuk surat menjadi saksi kedekatan Presiden Sukarno dengan Jenderal Abdul Haris Nasution pada Mei 1960. Isi surat itu menyebutkan rasa terima kasih Sukarno menjaga kondisi negara dalam situasi genting. Namun pada 1965 kedekatan ini buyar, Nasution merasa dikhianati Sukarno karena menjadi sasaran penculikan PKI.

Surat dengan tulisan tangan Sukarno itu masih disimpan keluarga Nasution di rumah mereka, Gandaria, Jakarta. Sukarno kala itu tengah melawat ke Kuba ketika negara dalam kondisi genting. Pergolakan daerah masih merebak, penumpasan PRRI di Sumatera belum tuntas, dan di kawasan timur Indonesia Permesta masih mengancam.

Nasution adalah salah satu petinggi Angkatan Darat yang sangat aktif memadamkan pergolakan daerah tersebut. Upayanya berhasil menundukkan pemberontakan Permesta di Indonesia Timur.

Sepucuk surat Presiden Sukarno untuk Jenderal AH Nasution. Sepucuk surat Presiden Sukarno untuk Jenderal AH Nasution. Foto: Aryo Bhawono

"Tak perlu saya ulangi lagi disini bahwa kepercayaan saya kepada kawan-kawan, terutama sekali kepada saudara dan saudara Djuanda (Djuanda Kartawidjaja) adalah penuh sepenuh-penuhnya," tulis Sukarno dalam surat tertanggal 14 Mei 1960 itu.

Djuanda sendiri waktu itu menjabat sebagai menteri keuangan setelah kabinetnya dibubarkan setahun sebelumnya. Kondisi ekonomi kala itu tengah porak poranda akibat penetapan demokrasi terpimpin. Sukarno melawat dengan rasa was-was tapi Djuanda dan Nasution bisa mempertahankan keamanan negara.

Kedekatan Sukarno dan Nasution ini juga dicatat oleh Merle Calvin Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Nasution memiliki pandangan politik sama dengan Djuanda dalam menghadapi pergolakan PRRI dan Permesta, mereka harus ditumpas. Keberhasilan operasi militer ini mampu mendudukkan Nasution sebagai perwira paling cemerlang.

Pada Juli 1958 pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal. Ia adalah perwira pertama dengan pangkat ini setelah Soedirman. Karier ini mencolok karena kebanyakan perwira di luar jawa dikeluarkan dari tentara karena pemberontakan. Nasution adalah perwira asal Sumatera yang cemerlang saat jabatan perwira didominasi orang Jawa.

"Pada Tahun 1960-an diperkirakan 60 sampai 80 persen perwira militer adalah orang Jawa padahal jumlah kelompok suku itu hanya sekitar 45 persen dari jumlah total penduduk Indonesia," tulis Ricklefs.

Namun kedekatan Nasution dengan Sukarno ini buyar ketika Gerakan 30 September 1965 meletus. Nasution menjadi salah satu sasaran penculikan jenderal oleh PKI. Anaknya Ade Irma Suryani menjadi korban.

"Kalau lihat dari surat itu kita bisa melihat betapa dekat Nasution dengan Sukarno. Tapi ketika 30 September 1965, Nasution benar-benar merasa dikhianati," ucap menantu AH Nasution, Edward Nurdin dalam perbincangan dengan detik.com beberapa hari lalu.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed