Narkoba Dominasi Kejahatan di Jakarta Barat Selama 2017

Arief Ikhsanudin - detikNews
Rabu, 14 Feb 2018 12:13 WIB
Foto: Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi. Fotografer: Arief Ikhsanudin/detikcom
Jakarta - Polres Metro Jakarta Barat memaparkan tren kejahatan di wilayahnya pada tahun 2017. Narkoba menjadi kasus dominan di Jakarta Barat.

Total kasus kejahatan di Jakarta Barat terdapat 2.818 kasus. 41,27 Persen kasus adalah narkoba.

"41,27 Persen itu narkoba, selanjutnya 4,32 persen adalah curat (pencurian dengan pemberatan), 2,34 persen curas (pencurian dengan kekerasan) dan lainnya," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi, dalam pemaparannya didepan Forum Komunikasi Pimpinan Kota (Forkompimko) Jakarta Barat, di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Jalan Kembangan Raya, Rabu (14/2/2018).
 Total kasus kejahatan di Jakarta Barat terdapat 2.818 kasus. 41,27 Persen kasus adalah narkoba. Foto: Total kasus kejahatan di Jakarta Barat terdapat 2.818 kasus. 41,27 Persen kasus adalah narkoba. Fotografer: Arief Ikhsanudin/detikcom


Menurut Hengki, peredaran narkoba ditopang oleh dua kawasan tempat peredaran narkoba di Kampung Ambon, Cengkareng, dan Kampung Boncos, Palmerah. Dua wilayah ini dikenal dengan Kampung Narkoba.

"Dalam tiga tahun, di Kampung Boncos ada 8 operasi dengan tersangka 99 orang. Kami mengamankan sabu sebanyak 174,75 gram. Sedangkan untuk Kapung Ambon, ada 13 operasi dengan 432 orang menjadi tersangka. Diamankan sabu sebanyak 221,8 gram," ucap Hengki.

Hengki menyayangkan masyarakat di Kampung Narkoba bersifat permisif. Namun, jika didekati, mereka memberi informasi peredaran narkoba.

"Jadi setelah operasi di Boncos kemarin, kami traktir makan baso kemudian kami dekati dan tanya kenapa mendiamkan. Kemudian, dia bilang, 'itu bandar juga tapi jangan bilang-bilang dari saya," ujar Hengki.

Hengki pun meminta kepada semua pihak untuk membantu kepolisian. Hal ini bisa mengurangi tindak kriminal termasuk Narkoba.

"Katanya, Jepang itu negara teraman, di sini tahun 1998, saya dikirim untuk belajar sistem keamanan. Di sana bukan polisi yang hebat, tapi masyarakat kompak," kata Hengki.

(aik/aan)