DetikNews
Rabu 14 Februari 2018, 07:33 WIB

Bertemu Jenderal Nasution, AM Fatwa Dipukuli di Pinggir Kali

Aryo Bhawono - detikNews
Bertemu Jenderal Nasution, AM Fatwa Dipukuli di Pinggir Kali Andhika Akbariansyah
Jakarta -

Cerita tentang sosok Andi Mappetahang (AM) Fatwa seakan tiada habisnya. Keluarga Jenderal Besar Abdul Haris (AH) Nasution punya kenangan tersendiri terhadap anggota Dewan Perwakilan Daerah yang wafat pada 14 Desember 2017 itu. Mereka menganggap mantan staf khusus Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1970-1979) itu bernyali besar karena berani menemui Nasution. Ia-pun menanggung risiko itu dengan siksaan dan penjara.

Keberanian Fatwa ini ditunjukkan ketika ia datang ke rumah keluarga AH Nasution di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta sekitar tahun 1980-an. Padahal Nasution saat itu tengah dikucilkan oleh penguasa Orde Baru pasca pensiun dari MPRS, 1973. Akibatnya banyak kerabat dan teman dekat takut untuk bertemu. Kalau pun ada yang bertandang, dipastikan akan diinterogasi Intel dan kartu identitas mereka dicatat.

"Pak Fatwa waktu itu datang membawa sepucuk surat berisi sikap keprihatinan atas penggunaan filsafat negara Pancasila oleh Presiden Soeharto terhadap lawan-lawan politiknya," kata Hendriyanti Sahara Nasution, putri AH Nasution, kepada detik.com beberapa waktu lalu.

Nasution berada di urutan ke-13 sebagai penandatangan lembaran yang kemudian dikenal sebagai "Petisi 50" tersebut. Sepulang dari rumah Nasution, di tengah jalan Fatwa dipukuli orang tak dikenal. "Kejadiannya di jembatan kuningan," kenang Hendrianti.

Edward Nurdin, suami Hendrianti, turut kena getah atas keterlibatan Nasution di kelompok Petisi 50. Edward diberhentikan dari TNI-Angkatan Udara tanpa sebab yang jelas pada 1976. Dua tahun sebelumnya, dia mengantarkan janda-janda korban kecelakaan pesawat di Palu, Sulawesi Tengah.

Para suami mereka tewas dalam perjalanan untuk tugas pengamanan pertemuan Presiden Soeharto dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos di Palu pada 1974. Para janda itu dijanjikan komandan operasi untuk mendapatkan rumah dan jaminan kehidupan. Tapi dua tahun berselang, komandan operasi yang sudah menjadi pejabat AU tersebut tak kunjung memenuhi janjinya.

Edward-pun memberanikan diri mengantarkan mereka menghadap si pejabat AU untuk menagih janji. Usai pertemuan, si pejabat murka dan meminta Edward untuk mengundurkan diri.

"Sebagai prajurit saya hanya jawab siap. Paginya saya tulis surat bahwa saya mengundurkan diri karena ada perintah. Tetapi di salinan surat tertulis seolah saya mengundurkan diri karena keputusan saya sendiri," jelasnya.

Beberapa tahun kemudian, banyak kabar yang diterima Edward tentang latar perintah pengunduran diri itu. Salah satunya adalah ada pihak yang khawatir jika Edward melakukan aksi upaya pembunuhan Presiden Soeharto ala Daniel Maukar. Maukar pernah memuntahkan peluru dari pesawat Mig-17 yang dikendalikannyake arah Istana untuk membunuh Presiden Sukarno.

Tentu saja Edward merasa geli dirinya dicurigai akan bertindak nekas seperti Maukar. Jangankan melakukan upaya pembunuhan seperti itu, mendaratkan pesawat dengan sempurna saja dia sudah merasa beruntung. "Yang saya tahu adalah saya disuruh mundur karena menantu Nasution," terangnya.




(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed