Kisah Persahabatan AM Fatwa dan Xanana Gusmao dalam Sepucuk Surat

Aryo Bhawono - detikNews
Selasa, 13 Feb 2018 09:56 WIB
Foto: Edy Wahyono/detikcom
Jakarta -

Andi Mappetahang (AM) Fatwa dan Xanana Gusmao pernah sama-sama mendekam di Penjara Cipinang pada masa Orde Baru. Pembicaraan di antara dua tahanan politik itu membuka mata Xanana mengenai perjuangan demokrasi di Indonesia.

Kisah persahabatan itu ditulis Xanana dalam dua lembar surat yang dibawa oleh Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Alberto Carlos. Ia mendapat kesempatan membacakan surat itu dalam acara 'Mengenang Fatwa' di Balai Kota DKI, Senin malam (12/2/2018).

Xanana pada masa itu tergabung dalam pemberontak Dewan Pertahanan Nasional Rakyat Maumere dan ditangkap oleh Tom Kolakops Timor-Timur pada 1992. Saat menjalani hukuman di Cipinang pada pertengahan 1993, dia mulai mengenal intens sosok AM Fatwa.

Berkat kehangatan Fatwa, baik saat menyambutnya pertama kali maupun menjalani keseharian berikutnya, Xanana mengaku tak merasakan penjara sebagai tempat yang kejam bagi sesama narapidana.

"Kenangan atas AM Fatwa adalah kenangan mengenai kehangatan Indonesia dalam arti yang sesungguhnya. Bagi saya, penjara menjadi tempat beberapa orang dengan satu identitas atas kemanusiaan," tulis Xanana dalam surat itu.

Pergaulannya dengan Fatwa dan beberapa tahanan politik lainnya membuka matanya mengenai figur politik, masyarakat berketuhanan, rakyat yang cinta demokrasi, kemanusiaan dan perbedaan, serta mereka yang datang dari berbagai latar belakang.

AM Fatwa, bagi Xanana, adalah seorang pejuang demokrasi di tengah tirani Orde Baru. Fatwa dianggapnya sebagai orang yang mengikuti akal sehat dan memiliki kecintaan pada kemanusiaan serta menginginkan demokrasi. Karena sikap inilah ia harus mendekam di penjara.

Setelah Presiden Soeharto jatuh pada 1998, keduanya menghirup udara bebas. Fatwa memilih berpolitik. Sikapnya atas kemanusiaan dan demokrasi terus dijaga. Fatwa merupakan bentuk keteladanan bagi Indonesia di masa kini. "Saya percaya warisan Fatwa merupakan warisan penting bagi negeri ini," tulis Xanana.

Seusai pembacaan surat, Alberto Carlos menyerahkan cendera mata berupa kain tenun Timor kepada Noenoeng Noerdjanah dan Dian Islamiati, istri dan anak almarhum AM Fatwa



(ayo/jat)