Satu Balita Lagi Meninggal Akibat Busung Lapar
Rabu, 22 Jun 2005 08:38 WIB
Jakarta - Busung lapar terus menghantui negeri yang katanya kaya sumber daya alamnya ini. Setelah tiga hari di Rumah Sakit (RS) Alfatah Ambon, Balita penderita busung lapar yang bernama Harun (1,3) meninggal dunia pada Rabu (22/6/2005) pukul 04.30 WIT dini hari tadi. Pertanda buruk kematian Harun sudah terlihat sejak Selasa (21/6/2005) sore kemarin. Harun selalu mengeluarkan busa berwarna kuning dari mulutnya. Sepertinya, selang infus di tangan kiri Harun tidak berarti apa-apa. Menurut dokter yang merawat Harun di Puskesmas Waihaong, Harun mengidap busung lapar. "Kuat kemungkinan Harun terkena busung lapar. Untuk membuktikannya, kami akan mengukur tinggi badannya," kata Dr Yusda Tuharea.Anehnya, pagi ini, ayah harun yang bernama La Ata (36), dimintakan untuk datang ke pihak RS umum Alfatah. La Ata dituntut untuk mengurusi biaya administrasi dan pengobatan Harun selama mendapat perawatan.Padahal, sebelumnya, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu sempat menyaksikan kondisi Harun. Gubernur juga sempat berjanji akan menangung segala biaya administrasi selama di RS. Maklum, La ata hanya berprofesi sebagai tukang becak. Gubernur juga sempat memberikan semangat kepada ibu Harun, Wa Amra (35) untuk tidak mengkhawatirkan kondisi Harun. "Saya bingung, mengapa saya disuruh bayar lagi. Padahal saya tidak punya apa-apa," ujar La Ata.Beberapa warga yang ditemui detikcom, mengecam pihak RS yang dinilai tidak berperikemanusian. "Pihak RS hanya cari untung. Pelayanan sudah jelek, lamban, dan tidak peduli dengan kondisi pasien dalam keadaan kritis," cetus ny Masita (47), tetangga Harun.Kabar meninggalnya Harun pun cepat tersiar. Sejak pukul 08.00 WIT pagi tadi, wartawan media lokal maupun media nasional langsung membidik kematian Harun. Ratusan warga melakukan aksi solidaritas mengumpulkan sumbangan kepada keluarga Harun. "Ini kelengahan pihak dinas kesehatan Maluku yangs selalu bernyayi tidak ada gizi buruk atau busung lapar di ambon. Kalau sudah begini, penyelasan muncul belakangan," ujar salah satun wartawan, Akbar Thalib.
(atq/)











































