Puisi Hendropriyono Sindir TPF Munir Sombong
Rabu, 22 Jun 2005 05:06 WIB
Jakarta - Tidak hanya dikenal sebagai orang yang tegas, ternyata mantan Kepala BIN Letjen (Purn) AM Hendropriyono pandai membuat puisi. Namun, isi dari puisi itu berupa kekecewaan Hendro terhadap TPF kasus Munir yang dianggapnya sombong. Hendro mencoba menumpahkan curahan hatinya melalui rangkaian kata-kata yang disebutnya sebagai puisi curahan hati. Di alinea pertama, Hendro memberikan nasehat kepada TPF yang telah merendahkan dirinya sebagai seorang rakyat tua.Ketika diberi kesempatan untuk menyampaikan kata tanggapan dan kata penutup atas ketidakhadiran TPF, Hendro segera berdiri dan meminta izin pada pimpinan sidang Slamet Effendi Yusuf untuk membacakan puisi yang menurutnya dibuat secara terburu-buru.Puisi itu dibacakan di hadapan para anggota DPR pemantau kasus Munir, sejumlah wartawan, beserta hadirin yang hadir dalam ruangan rapat Komisi III DPR di Gedung DPR, Jl Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Selasa (21/6/2005).Puisinya yang berjudul "Selamatkan Bangsamu" itu berisi pesan kepada para anggota TPF. Beginilah puisi buatan Hendro:"Kusampaikan kepadamu nasehat tulus dari saya seorang rakyat tua yang kau rendahkan yang mengabdi hampir setengah abad bersama kawan-kawanku anggota ABRI (TNI dan POLRI) untuk kejayaan negara proklamasi sehingga kalian masih hidup dan sekarang bisa punya Keppres di bawah sesanti Garuda Bhineka Tunggal Ika". "Gunakanlah kepres itu untuk mengungkap kasus munir untuk mengamankan rakyat bukan untuk menindas mereka. Gelorakanlah jiwamu untuk mengemban tugas negara di bawah kibaran sang saka merah putih, sang saka bendera persatuan kita yang besar yang telah diperjuangkan hidupnya dengan penuh pengorbanan dari para pendahulu kita". "Janganlah takabur dengan menganggap diri seolah-olah pahlawan dan merendahkan prajurit tua yang telah mengabdi untukmu dengan segala kekurangannya sebagai manusia biasa. Jangan kau lampiaskan dendam politik kepada perorangan para pendahulu, tetapi perbaikilah sistem yang salah yang ada di masa lalu untuk kita koreksi bersama dan mencegah kembalinya alam otoritarianisme".Namun, di akhir puisinya mantan Pangdam Jaya (1993) dan mantan Menteri Transmigrasi dan PPH RI di era Soeharto ini (1997), dia menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia bersatu dari gangguan pihak asing yang ingin memecah-belah rakyat Indonesia."Hidup persatuan bangsa kita yang besar Indonesia raya! Hidup persatuan rakyat pemerintah dan alat-alat negara TNI dan POLRI beserta masyarakat madani yang merdeka, bebas, dan berdaulat. Ingatlah adik-adikku generasi penerus bangsa, hidup kita di dunia ini hanya sementara. Ingatlah bahwa kita ini adalah umatnya yang satu. Allah SWT menghendaki kita bersatu dengan kewaspadaan yang penuh menghadapi musuh angkara merasuki tubuh bangsa kita dengan segala cara dan tipu daya," tegas Hendro.Seusai Hendro membaca puisi, sejumlah hadirin terutama orang-orang yang dibawa Hendro bertepuk tangan. Para anggota dewan yang lainnya pun tersenyum. Ketua sidang Slamet Effendi Yusuf pun ikut tersenyum dan berkomentar. Menurutnya, cara membaca Hendro, bukan seperti membaca puisi, melainkan pidato."Ternyata pak Hendro bisa juga membuat puisi, tapi memang begitu. Sebagai mantan prajurit, puisinya berisi kata-kata yang heroik," komentar Slamet. Usai membacakan puisinya, Hendro bersama timnya pergi meninggalkan ruang rapat komisi III DPR RI untuk pulang.
(atq/)











































