"Kita tinggal di negara yang mengamini kemajemukan. Ada enam agama yang diakui di Indonesia. Jangan sampai simpul kebhinekaan rusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab seperti ini," ujar Muhaimin kepada wartawan, Minggu (11//2018).
Pria yang karib disapa Cak imin itu menyoroti empat kali penyerangan terhadap tokoh agama. Pertama dialami Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri. Umar dianiaya usai melakukan Salat Subuh pada 27 Januari 2018 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, kasus ketiga dialami Biksu Mulyanto Nurhalim asal Desa Babat, Tangerang, Banten. Pada Sabtu, 10 Februari 2018, Nurhalim dipaksa menandatangani surat perjanjian supaya tak menggelar kegiatan peribadahan di desanya sendiri.
Kemudian baru saja terjadi penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta. Pelaku bernama Suliyono asal Banyuwangi, menyerang para jemaat dan pastor gereja saat misa pagi berlangsung. Cak Imin mengajak masyarakat agar menjaga diri dan jangan sampai terprovokasi.
"Ayo kita sama-sama menahan diri. Jangan termakan provokasi untuk curiga satu sama lain," ujar Cak Imin. (ams/imk)