Museum ini digagas oleh Bonny Triyana bersama Bupati Lebak periode 2003-2013, Mulyadi Jayabaya, dan baru terealisaisi di 2017. Beberapa lembaga dari Belanda dan Korea Selatan juga menyumbangkan dana untuk proyek yang diharapkan dapat menjadi ikon Lebak.
Putri Mulyadi Jayabaya, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, juga hadir di acara peresmian. Mulyadi tampak akrab berbincang dengan Cak Imin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan bupati itu juga aktif mempromosikan kuliner Lebak kepada Cak Imin. Salah satunya adalah produk kopi khas Lebak yang bernama kopi Kupu-kupu.
Selain itu, Mulyadi juga memperkenalkan kesenian kecapi khas Lebak kepada Cak Imin. Acara pembukaan Museum Multatuli ini mendapat sambutan hangat dari warga dan Pemda Lebak.
Sementara itu menurut Cak Imin, museum yang diambil dari nama penulis asal Belanda Eduar Douwes Dekker alias Multatuli tersebut mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan antikolonialise. Terlepas dari kenyataan bahwa Belanda pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun.
"Arti penting kemanusiaan adalah nomor satu dari museum ini," kata Cak Imin di sela-sela acara.
Foto: Dok PKB |
Cak Imin mengatakan, nilai kemanusiaan yang diwariskan oleh Multatuli sangat pas diterapkan di Indonesia dalam rangka menghadapi kemajemukan. Keberagaman yang ada di Indonesia, menurutnya, seharusnya menjadi kekayaan, bukan pemicu perselisihan hanya karena perbedaan keyakinan.
"Apapun agamamu, apapun keyakinanmu, kemanusiaanlah nomor satu. Jangan sampai karena keyakinan, bertabrakan sesama manusia. Nah Multatuli mengajarkan kemanusiaan nomor satu dibanding apapun di republik ini," tegas pria kelahiran Jombang, Jawa Timur tersebut.
Cak Imin mengimbau para birokrat tidak mengabaikan aspek sejarah, terutama dalam menjalankan kebijakan. Ketidaktahuan birokrat terhadap sejarah, menurut pria yang akrab dipanggil Cak Imin itu, sangat terasa dampaknya pada arah pembangunan.
"Orang yang berperan di pemerintahan dan kemasyaratan terutama birokrat, akan sangat menyesal bila jarang belajar sejarah. Makanya kadang-kadang tidak mengerti mau dibawa ke mana ketika memimpin birokrasi," ujar Cak Imin.
Sementara Bupati Lebak, Iti Oktavia Jayabaya menerangkan, Multatuli merupakan sosok yang kontras dalam menentang penjajahan Belanda. Meski berkewarganegaraan Belanda, Multatuli memperjuangkan penderitaan rakyat Lebak, ketika diangkat menjadi Asisten Residen Lebak pada Januari 1856.
"Multatuli orang pertama mencoba membunuh penjajahan waktu itu. Padahal (Multatuli) asal Belanda. Dia protes soal upah pekerja yang tidak dibayar, lapangan pekerjaan yang tidak tersedia, dan kemiskinan yang merajalela," jelas Iti.
Museum Multatuli dibangun di bekas kantor kewedanan yang berdiri sejak 1838. Meski berukuran kecil, ini merupakan museum antikolonial pertama dan satu-satunya di Indonesia. (ega/tor)












































Foto: Dok PKB