DetikNews
Jumat 09 Februari 2018, 20:41 WIB

Pengamat Sebut PDIP Dapat Penilaian Negatif di Jabar, Ini Penyebabnya

Haris Fadhil - detikNews
Pengamat Sebut PDIP Dapat Penilaian Negatif di Jabar, Ini Penyebabnya Diskusi soal hoax di DPP PDIP, Jumat (9/2/2018) Foto: Haris Fadil/detikcom
Jakarta -

Pendiri Politicawave Yose Rizal menyebut, berdasarkan penilaiannya dari aktivitas di media sosial, PDIP mendapat penilaian negatif di Jawa Barat. Hal itu, disebutnya, karena PDIP masih dikaitkan dengan dukungannya terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon gubernur saat Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Politik-politik primordial ini kan masih cukup tinggi ya. Jadi kemarin seperti di Jakarta, PDIP juga masih banyak dianggap kayak partai dianggap pendukung calon yang kemarin itu disampaikan bukan calon yang islami. Karena kemarin kasus Ahok dan lain-lain. PDIP di Jawa Barat masih banyak ditempelkan dengan atribut seperti itu. Apalagi kalau ketika calon yang ditampilkan secara popularitas belum terlalu dikenal kan. Jadi lebih banyak disorot dari partainya dan keterkaitan pilkada sebelumnya," kata Yose seusai diskusi publik 'Melawan Hoax' di DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (9/2/2018).

Pendapat ini disampaikan berdasarkan pantauan dari pembicaraan di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Dia mengatakan gambaran itu bisa berubah seiring proses pilkada yang terus berjalan.

"Gambarannya sampai saat ini begitu ya. Ini kan proses awal tergantung mesin partainya, relawan bergerak. Dalam banyak kasus bisa berubah. Kalau social media Facebook sama Twitter ya kalau politik ya. Tapi juga pemberitaan di media digital ada juga dari YouTube dari Instagram," paparnya.

Sementara itu, masih berdasarkan penilaian dari aktivitas di media sosial, Yose menyebut Ganjar Pranowo lebih mendapat respons positif daripada lawannya di Jawa Tengah. Hal itu disebutnya karena Ganjar cukup aktif di media sosial, seperti Twitter.

"Ganjar ini banyak diakui prestasinya juga ya. Kemudian di Twitter juga cukup aktif ya sebagai gubernur yang dia menerima masukan-masukan dari Twitter dan dia cukup cepat responsnya. Ini sedikit-banyak membantu posisi dia. Kalau Sudirman Said mungkin selama ini dia di kancah nasional juga tidak terlalu lama jadi menteri. Sebelumnya juga belum terlalu dikenal. Jadi ya secara popularitas masih di bawah Ganjar, terutama di Jawa Tengah," kata Yose.

Untuk Jawa Timur sendiri, Yose menilai respons terhadap para bakal calon gubernur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa, masih seimbang di media sosial. Hal ini disebutnya disebabkan Khofifah dan Gus Ipul telah 3 kali mengikuti pilgub Jatim.

"Gus Ipul sama Khofifah ini kan sudah 3 kali ikut proses pilkada di Jatim dengan hasil yang tidak jauh berbeda. Jadi posisinya menggambarkan dari pilkada-pilkada sebelumnya. Kira-kira begitu. Jadi cukup ketatlah. Sebenarnya ini sudah pertarungan mereka yang ketiga kan," kata Yose.

Yose menyebut media sosial semakin penting dalam keperluan kampanye. Dia menyarankan para calon dan tim suksesnya tidak menggunakan kampanye hitam untuk mendongkrak suara.

"Jelas social media makin penting ya. Sudah dibuktikan dari berbagai pilkada, berbagai pilpres, socmed ini bisa mengubah persepsi masyarakat. Jumlah masyarakat milenial kita ini semakin tinggi seiring bonus demografi di Indonesia. Jadi sekarang itu pemilih muda itu jumlahnya besar sekali. Pemilih muda ini kan bagaimana cara mereka berinteraksi benar-benar dari layar HP mereka, which is social media," ujarnya.

"Masyarakat sudah mulai pintar jangan para calon gubernur atau calon wali kota hanya berjargon bahwa kita tidak akan melakukan black campaign tapi akun pendukungnya melakukan black campaign itu sesuatu yang direspons negatif juga oleh netizen," jelas Yose.




(haf/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed