DetikNews
Jumat 09 Februari 2018, 19:12 WIB

Satgas Nusantara Polri Patroli Cari Akun Medsos Penyebar Kebencian

Haris Fadhil - detikNews
Satgas Nusantara Polri Patroli Cari Akun Medsos Penyebar Kebencian Brigjen Fadil Imran (Zunita Amalia Putri/detikcom)
Jakarta - Polri membentuk Satgas Nusantara untuk mencegah berita bohong atau hoax hingga ujaran kebencian bermotif SARA saat pilkada. Selain itu, satgas ini akan bertugas mendinginkan suasana pilkada, yang diperkirakan memanas.

"Itu hanya untuk menghadapi pilkada. Jadi, sebagai kita ketahui, rangkaian pilkada ini kan semua paslon pasti gunakan mesin politiknya untuk memanaskan situasi. Satgas Nusantara bertugas sebagai cooler atau pendingin. Dengan cara banyak melakukan edukasi, literasi di dunia internet, juga di dunia nyata. Kerja sama penyuluhan dan sebagainya," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran dalam diskusi publik 'Melawan Hoax' di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (9/2/2018).

Selain untuk mendinginkan suasana, Satgas Nusantara dibuat untuk melakukan patroli siber terhadap akun-akun yang bersifat provokatif. Fadil mengaku satgas tersebut sudah siap 100 persen untuk bertugas.

"Satgas Nusantara itu salah satu elemennya adalah satgas penegakan hukum. Di dalamnya ada satgas patroli siber yang memonitor akun-akun berkeliaran yang memprovokasi menggunakan isu-isu SARA," ucap Fadil.



"Sudah. Di polda-polda ada. Di polres ada. (Akan berkoordinasi) dengan penyelenggara pemilu, kontestan, tim sukses, tokoh masyarakat, ulama, dan sebagainya. Itu ikut anggaran rutin Polri," imbuhnya.

Ia menyebut ujaran kebencian dan berita bohong paling banyak ditemukan di Facebook dibanding platform lain. Hal itu sejalan dengan jumlah pengguna Facebook di Indonesia, yang lebih banyak daripada pengguna media sosial lain.

"Dari 2017 memang, kalau lihat statistiknya, penggunaan akun medsos paling tinggi Facebook," ujar Fadil.

Fadil mengimbau masyarakat tak menyebarkan hoax, terutama yang bermotif SARA. Hoax disebutnya tak punya manfaat bagi masyarakat.

"Penggunaan SARA sudah kira rasakan bersama dampaknya. Kerusakan yang ditimbulkannya itu sudah kira rasakan bersama. Mari kita berhenti menggunakan penyebaran hoax, penyebaran berita berkonten SARA. Saya kira tidak ada manfaatnya untuk kita bersama," pungkas Fadil.
(HSF/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed