Jembatan itu terbentang sekitar 200 meter di atas Sungai Lematang, menghubungkan Desa Berugo dan Tanjung Dalam. Jembatan itu terlihat sudah tidak layak digunakan. Pada bagian alas hanya menyisakan beberapa keping papan rapuh dan besi penyangga yang mulai keropos.
Melihat kondisi tersebut, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI AM Putranto memerintahkan jajaran untuk melakukan perbaikan. Jenderal bintang dua ini meminta Dandim 0404/ Muaraenim Letkol Inf Teady Aulia melakukan survei guna tindak lanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putranto menyebut jembatan gantung itu memang begitu vital. Pelajar harus mencari jalur alternatif dan berjalan sejauh 8 km jika jembatan terputus. Alasan itulah yang membuat pelajar nekat dan tetap melintas meskipun memiliki risiko terjatuh.
"Jembatan gantung itu menjadi akses terdekat. Coba bayangkan kalau mereka menjadi korban, terjatuh dan sebagainya. Itulah alasan kita menyelamatkan generasi muda agar bisa bersekolah dan kami targetkan dalam tiga minggu ke depan sudah selesai," imbuh Putranto.
Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu prajurit TNI dengan inisiatifnya mulai menyediakan perahu khusus untuk antar-jemput pelajar. Prajurit TNI ingin memastikan pelajar tetap dapat bersekolah meskipun kondisi jembatan gantung sangat memprihatinkan.
Kepala Desa Berugo, Desi Aryani, mengaku jembatan gantung itu rusak sejak setahun lalu. Jembatan ini memang menjadi akses utama yang kerap dilalui pelajar saat akan pergi bersekolah dan petani yang akan pergi ke kebun.
"Rusak sejak tahun lalu dan ini menjadi kendala kami, masyarakat. Jalur alternatif memang ada, tapi jauh, kalau pakai perahu kita harus keluarkan ongkos dan itu lumayan kalau kita bolak-balik mau menyeberang," katanya. (asp/asp)










































