Dialah Serka Chrismawati Natalia, Wanita Angkatan Udara (Wara) yang ikut unjuk gigi dalam terjun payung di Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh, Jumat (9/2/2018). Dia merupakan satu-satunya penerjun perempuan dari 91 prajurit TNI AU yang ikut terjun freefall dan terjun statik.
![]() |
Perempuan yang berdinas di Poli Gigi di Rumah Sakit Lanud Sulaiman, Bandung, ini sudah melakukan penerjunan sejak 2006. Pada tahun itu, dia masuk pendidikan sebagai penerjun freefall di Pusdiklat Paskhas. Setelah lulus, ia kerap ambil bagian untuk 'melayang-melayang' di angkasa menggunakan parasut.
"Saya jadi penerjun dari 2006 sampai sekarang. Di Indonesia saya sudah terjun payung di semua daerah," kata Natalia saat ditemui seusai terjun payung di Lanud SIM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Menjadi seorang penerjun freefall punya kesan tersendiri bagi Natalia. Kemampuannya keluar dari pesawat, terbang pakai parasut, hingga mendarat tidak kalah dengan prajurit TNI laki-laki.
"Kesan paling menarik, membanggakan diri sendiri sama orang tua, sama yang lainnya, kalau perempuan bisa lebih, seperti pria juga. Asyiknya itu saat pertandingan, saat melayang," jelas Natalia.
Sebelum melakukan atraksi terjun payung, perempuan yang tergabung dalam Kesatuan Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara ini terlebih dulu mengecek kesehatan. Selain itu, berbagai persiapan lain dilakukan. Terjun tadi pagi, katanya, dilakukan pada ketinggian 10 ribu kaki dan dibagi dalam dua run.
![]() |
Terjun payung freefall dan terjun statik ini dilakukan untuk penyegaran. Para penerjun pun mayoritas dari Bandung, Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Medan. Penerjunan ini dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia.
"Terjun penyegaran setiap tahun itu ada terjun penyegaran di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hari ini saya sendiri cewek," ungkapnya.
Lalu pernahkah merasa takut saat melakukan penerjunan?
"Takut, kan manusia normal," kata Natalia sambil tersenyum. (asp/asp)














































