Sejak 2012, hadirlah forum Meksiko, Indonesia, Korea, Turki, Australia (MIKTA). Namanya sekarang masih relatif jarang didengar, tapi inilah forum dari 5 negara anggota G20 yang lintas benua.
MIKTA menjadi cara baru yang inovatif bagi Indonesia untuk tampil sebagai Middle Power bersama 4 negara lainnya. MIKTA bukan blok politik namun upaya multilateral untuk menjalin kerja sama dengan cara yang lebih kekinian. Karena, tidak ada negara yang bisa menyelesaikan masalah internasional sendirian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Charge d'Affaires Kedubes Turki Allaster Cox dalam momen yang sama mengatakan MIKTA adalah kekuatan baru yang muncul untuk menyeimbangkan kekuatan global. "Ini kerja sama yang inovatif, cara pikir baru untuk aksi multilateral demi keamanan dunia dan menghadapi tantangan global dari kejahatan trans nasional sampai perubahan iklim," kata Allaster Cox.
Memangnya apa yang baru dan inovatif? Direktur Eksekutif Habibie Center Rahimah Abdulrahim mengatakan MIKTA dari awal melibatkan masyarakat sipil. Programnya bersifat bottom up dan bukan diatur dari pemerintahnya. Ini bedanya dengan organisasi multilateral yang ada selama ini.
"Dari awal sudah mengajak civil society dan akademisi. Lebih bottom up, bukan diatur pemerintah," kata Rahimah.
MIKTA bekerja sama pada 7 bidang yaitu melawan terorisme, kerjasama ekonomi dan perdagangan, energi, pembangunan berkelanjutan, kesetaraan gender, penjaga perdamaian, good governance dan demokrasi. Dubes Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom bilang MIKTA mencoba menjadi jembatan antara negara super power dan berkembang.
"Kita menjembatani jarak yang ada. Bicara posisi yang sama untuk beberapa isu seperti gender, nuklir dll," kata Chang-beom.
Hal senada dikatakan Third Secretary Kedubes Turki untuk Indonesia, Ihsan Eralp Semerci. "MIKTA itu kekuatan konstruktif di regional masing-masing untuk memperkuat kerja sama multilateral," kata dia.
Indonesia saat ini menjadi ketua kordinator MIKTA untuk 2018. Dosen HI FISIP UI Sofwan Al Banna Choiruzzad mengatakan ada banyak harapan masyarakat sipil pada MIKTA karena kekuatan global yang ada sekarang tidak bisa menjawab beberapa masalah internasional.
"MIKTA mesti jadi penghubung pemerintahan global dengan masyarakat global. Bukan cuma pemerintah, tapi juga masyarakat. Bukan cuma perkumpulan negara middle power, tapi juga secara global," ujar Sofwan. (fay/fjp)











































