DetikNews
Rabu 07 Februari 2018, 22:52 WIB

Soal Kartu Kuning ke Jokowi, Haruskah BEM UI ke Asmat Dulu?

Danu Damarjati - detikNews
Soal Kartu Kuning ke Jokowi, Haruskah BEM UI ke Asmat Dulu? Aksi kartu kuning untuk Jokowi yang dilancarkan Zaadit (Abdul Rosyid/detikTV)
Jakarta - Aksi kartu kuning untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dilancarkan Ketua BEM UI Zaadit Taqwa menuai kontroversi. Salah satu tuntutan yang disampaikan Zaadit adalah persoalan kejadian luar biasa (KLB) di Asmat, Papua.

Bahasan ini mengemuka di acara Mata Najwa, yang disiarkan langsung di Trans7, Rabu (7/2/2018). Acara ini menghadirkan para pemimpin BEM sejumlah universitas di Indonesia. Politikus PDIP Adian Napitupulu menilai sebaiknya mahasiswa punya cukup pengalaman di Asmat lebih dulu sebelum melancarkan kritik ke Jokowi.

"Legitimasi moralnya tidak kuat," kata Adian, yang berkacamata gelap.

Dia menilai mahasiswa haruslah merasakan langsung penderitaan warga Asmat dengan cara datang ke Asmat, lalu 'menghirup aroma dan memegang air mata' Asmat.

"Barulah, kartu kuning itu punya legitimasi moral yang kuat," ujar Adian.

Anggota DPR dari Partai Gerindra, Desmond J Mahesa, menilai kartu kuning itu adalah wujud aksi berdemokrasi untuk memberi peringatan kepada Jokowi. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir juga menyatakan kritik itu punya muatan positif.

"Ini menurut saya ada positifnya, mengoreksi apa yang dilakukan pemerintah," kata Nasir, yang merupakan guru besar Undip Semarang.

Kembali menanggapi Adian soal perlu atau tidaknya mahasiswa ke Asmat dulu sebelum mengkritik Jokowi, anggota DPR dari PAN, Ahmad Yohan, tak setuju dengan pendapat Adian. Yang diperlukan hanyalah kebenaran poin kritik mahasiswa, yakni tentang kondisi gizi buruk dan campak di Asmat, Papua.

"Selama yang disampaikan benar, saya kira Zaadit punya kekuatan moral yang besar," kata Yohan.

Adian kembali menanggapi bahwa buku-buku tak akan cukup menjadi landasan mahasiswa untuk mengkritik penanganan soal gizi buruk di Asmat atau persoalan rakyat lainnya. "Tinggallah dengan mereka, hidup dengan mereka, rasakan apa yang mereka makan," kata Adian.

Najwa Shihab bertanya kepada Zaadit Taqwa soal apakah dia pernah merasakan langsung kondisi yang dihadapi penduduk Asmat. Zaadit menjawab bahwa sejauh ini dia mengikuti kabar Asmat dari media massa, kemudian dia mendapat gambaran problem yang warga Asmat hadapi. Atas dasar pengetahuan dari media massa itulah kritik berupa kartu kuning ke Jokowi dilancarkan.

"Yang jadi pertanyaan, dari pagi saja kami kuliah, praktikum, membuat pelaporan," kata Qudsi Ainul Fawaid dari IPB. Dia menekankan soal sistem pendidikan sekarang yang tak memungkinkan mahasiswa beraktivitas lebih banyak di luar perkuliahan, sehingga aktivisme mahasiswa jadi tereduksi.

Presiden UGM, Obed Kresna Widya Pratistha, tak setuju dengan tilikan Adian. Menurutnya, kritik haruslah dinilai dari keberpihakan terhadap rakyat. "Kita yang di sini memang belum ke sana, tapi jangan sampai melihat kritik itu tidak berdasar," kata Obed.

Ketua Keluarga Mahasiswa ITB Ardhi Rasy Wardhana menilai kritik Adian terhadap aksi Zaadit, bahwa kritikan itu tak punya legitimasi moral yang kuat, sebagai kritik yang mengecilkan aksi mahasiswa.

Sekalian, Jimmy juga menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap kritik Adian. Menurutnya, mahasiswa harus senantiasa dilibatkan dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah. Aksi kritis mahasiswa dilandasi buku. Tak perlu harus ke Asmat dulu hanya untuk melancarkan kritik soal penanganan gizi buruk di Asmat.

"Mahasiswa itu ya agen kritik. Tugas saya sebagai dosen adalah juga menjadikan mereka agen kritik," kata Jimmy.
(dnu/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed