JK Bicara Ganti Menteri Ganti Kurikulum

JK Bicara Ganti Menteri Ganti Kurikulum

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Rabu, 07 Feb 2018 13:05 WIB
JK Bicara Ganti Menteri Ganti Kurikulum
Foto: Wapres Jusuf Kalla pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 di Pusdiklat Kemendikbud, Serua Bojongsari, Depok, Rabu (7/2/2018). (Noval Dhwinuari Antony-detikcom)
Depok - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta dunia pendidikan fokus mengembangkan kurikulum dengan inovasi dan teknologi. Hal ini agar Indonesia lebih maju di bidang teknologi dalam 19 tahun ke depan.

JK berbicara soal kurikulum di sistem pendidikan Indonesia yang yang sering berganti. Menurutnya, kurikulum memang harus dinamis karena ilmu pengetahuan yang dinamis.

"Mengenai kurikulum sering ada semacam sinisme yang mengatakan ganti menteri ganti kurikulum. Kurikulum itu memang suatu yang dinamis karena ilmu di dunia ini dinamis," ujar JK dalam sambutannya di acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018, di Pusdiklat Kemendikbud, Serua Bojongsari, Depok, Rabu (7/2/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JK memandang perkembangan dunia juga sangat cepat. Untuk itu, kurikulum pendidikan juga harus disesuaikan dengan kurikulum yang baru.

"Kalau tidak dibuat kurikulum baru katakan lah juga sistem IT yang baik, kita akan ditinggal. Begitu juga sistem yang lain, tapi tentu menteri juga punya waktu yang di mana bisa dievaluasi karena itu juga memakan biaya besar," katanya.


Perlu ada inovasi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. JK memandang inovasi akan meningkatkan skill peserta didik

"Yakin lah bahwa pola mendorong inovasi, pola untuk meningkatkan skill. Dua-duanya penting. Karena inovasi membutuhkan skill, inovasi berpikir di depan mata skill-nya. Itu lah kenapa pendidikan itu penyebabnya," ucapnya.

Karena itu melalui pertemuan dengan para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan ini, JK mengajak untuk melihat Indonesia 19 tahun ke depan. JK mengimbau jangan lagi bicara masa lalu.

"Mari kita melihat apa yang terjadi di Indonesia ini atau di dunia dengan 19 tahun yang akan datang, jangan bicara masa lalu. Jangan bicara dulu, misalnya dulu kalau orang bugis ini berlayar pakai phinisi sampai ke Afrika, dulu kita kita menguasai ini macam-macam, dulu zaman Majapahit, nah itu artinya museum," imbuhnya.

JK kembali menekankan agar para pemangku kepentingan di bidang pendidikan jeli melihat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia. Ilmu tersebut nantinya harus diajarkan kepada para peserta didik di sekolah-sekolah.

"Karena apabila mendidik hari ini, 10 tahun kemudian hasilnya baru kita tahu. Karena itu jangan ada sekolah teknik, politeknik, SMK, mengajarkan elektronik tapi masih dengan transitor dan sebagainya, orang sudah makai digital semua pendidikannya. Orang sudah memulai e-comerce, kita masih bicara masalah-masalah dasar," tuturnya. (nvl/idh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads