DetikNews
Selasa 06 Februari 2018, 15:02 WIB

Nelayan Maros Masih Ragu Pakai Cantrang Lagi

M Bakrie - detikNews
Nelayan Maros Masih Ragu Pakai Cantrang Lagi
Maros - Menteri Susi sudah membolehkan penggunaan cantrang kembali. Tapi puluhan nelayan Maros, Sulawesi Selatan, mengaku belum berani melaut menggunakan alat tangkap mereka.

Padahal alat tangkap ikan yang mereka gunakan selama ini lebih kecil ketimbang cantrang. Namun, sejak adanya aturan pelarangan itu, mereka tidak lagi berani menggunakannya hingga banyak dari mereka beralih profesi menjadi pencari kerang.

"Banyak nelayan yang ditangkap saat melaut. Makanya sejak adanya aturan pelarangan itu, kami tidak berani lagi. Kami dengar pelarangannya dicabut sementara, tapi kami tetap takut," kata salah seorang nelayan, Darwis, saat ditemui detikcom di Desa Tupabiring, Kecamatan Bontoa, Selasa (6/2/2018).

Menurutnya, nelayan tidak mau ambil risiko dengan tetap berani melaut menggunakan alat tangkap yang mereka sebut renreng itu. Pasalnya, sudah banyak dari mereka yang tertangkap dan merugi hingga ratusan juta rupiah.

"Meski sudah diperbolehkan, kami tetap takut, Pak. Karena belum jelas juga. Kalau kita ditangkap, kan bisa lebih banyak kerugian. Nah kita tidak mau ambil risiko itu," lanjutnya.

Selama ini, belum ada satu pun pihak dari pemerintah, khususnya dari dinas kelautan, yang mensosialisasikan kebijakan Menteri Susi kepada mereka terkait penggunaan alat tangkap yang diperbolehkan sementara. Bahkan pihak pemerintah desa pun tidak bisa berbuat banyak.

"Waktu ada kabar pencabutan larangan, kami sangat senang. Tapi kami masih bingung. Pihak pemerintah desa juga belum memberikan kepastian, apakah alat kita ini bisa digunakan atau seperti apa," terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Tupabiring, Nasruddin, mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Pihaknya juga tidak bisa mempersilakan nelayan melaut menggunakan alat tangkap mereka, yang menurutnya berbeda dengan cantrang.

"Yang diperbolehkan kan cantrang. Nah, alat mereka ini beda. Kami tidak bisa melarang atau menyuruh mereka untuk melaut pakai alat mereka, karena kita belum tahu pasti apa yang boleh," ungkapnya.

Nasruddin berharap pihak terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, turun memberikan sosialisasi ataupun pendataan. Aturan sementara Menteri Susi juga seharusnya dibuatkan payung hukum yang jelas agar tidak menimbulkan keresahan.

"Sejauh ini belum pernah ada dari KKP turun ke lapangan menyampaikan kepada nelayan terkait hal itu. Tapi yang terpenting menurut kami, harus ada payung hukumnya dibuat, biar nelayan bisa lega," ujarnya.

Diketahui, alat tangkap ikan yang digunakan oleh nelayan di Desa Tupabiring ini pada prinsipnya sama dengan cantrang. Hanya, ukuran jaringnya lebih kecil dan hanya ditarik dengan menggunakan satu kapal dengan bobot pemberat, juga lebih ringan.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed