DetikNews
Selasa 06 Februari 2018, 12:40 WIB

Tigor Silaban, 'Dokter Barbar' di Wamena

Aryo Bhawono - detikNews
Tigor Silaban, Dokter Barbar di Wamena Bersama kepala suku Yaniruma Kabupaten Mappi. Masyarakat di sana masih tinggal di atas pohon. (Foto: dok. pribadi via Facebook)
Jakarta -

Papua bukan cuma luas secara wilayah, tapi kondisi infrastruktur di sana umumnya masih terbatas. Tak aneh bila banyak dokter, guru, dan pengemban profesi lainnya tak bertahan lama saat bertugas di sana. Akibatnya, kondisi kesehatan warga di Papua, terutama di pedalaman, masih sangat memprihatinkan. Dari segelintir dokter, tersebutlah Tigor Silaban, yang telah mengabdikan diri di Bumi Cenderawasih sejak 1979 hingga sekarang.

Tigor Silaban sebenarnya adalah dokter umum. Tapi kondisi Papua yang serbaminim dan terisolasi menuntutnya menjadi dokter spesialis bedah. Tak cuma memotong tumor, ia juga harus melakukan operasi patah tulang dengan perlengkapan ala kadanya.

"Tapi sejauh ini belum ada kejadian fatal di meja operasi yang saya lakukan," kata Tigor mengisahkan pengalamannya bertugas di Kabupaten Wamena, Papua, sejak 1979.

Tigor Silaban, 'Dokter Barbar' di WamenaBaru mendarat di Tana Merah. (Foto: dok. pribadi via Facebook)

Kabupaten Wamena, yang menjadi wilayah kerjanya, dia memaparkan kepada detikcom yang menghubunginya pada Senin (5/2/2018) malam, kala itu luasnya lebih besar daripada Provinsi Jawa Barat. Wamena mencakup wilayah antara lain Senggo, Merauke, Fakfak, Kaimana, dan pedalaman lainnya.

Selain dari pelatihan di Kementerian Kesehatan, kemampuan melakukan operasi bedah didapat Tigor dari dr Frin. Warga Belanda itu menjadi rekan sekaligus mentornya.

Lazimnya, dokter spesialis hanya berada di rumah sakit di Jayapura. Tapi jarak yang jauh dengan medan superberat tentu akan menyita waktu lama dan menambah penderitaan si pasien. Kalaupun perjalanan dilakukan melalui jalur udara, jadwal penerbangan pesawat perintis hanya pada waktu-waktu tertentu. Akhirnya banyak pasien banyak yang merujuk ke puskesmas tempat Tigor bertugas.

Tigor adalah salah seorang putra arsitek legendaris yang pernah merancang Masjid Istiqlal dan Tugu Monas, Friedrich Silaban. Pertama kali berpraktik di Papua, dia ditempatkan di Oksibil, yang merupakan daerah merah atau zona berbahaya.

"Saat Menteri Kesehatan Adhyatma (1988-1993) datang, ia heran karena operasi terencana adalah operasi spesialis, tidak mungkin hanya dengan alat seadanya," Tigor mengenang.

Hal lain yang juga tidak lazim terjadi di lingkungan dunia kedokteran normal, dia melanjutkan, operasi biasanya disaksikan langsung oleh anggota keluarga. Bukan di ruang tertutup yang supersteril.

Karena itu, dia pernah menyulap ruang operasi menjadi semacam podium teater. Meja operasi dibuat di tengah dalam ruang kaca, lantai dua dipakai untuk observasi belajar tenaga medis untuk melihat langsung operasi. Sedangkan keluarga pasien sering meminta duduk di lantai dua untuk ikut menyaksikan operasi. Jika kurang jelas, mereka minta turun. Tigor pun biasanya akan memberi mereka pakaian, masker, dan topi sebelum mempersilakannya mendekat ke meja operasi.

"Misalnya saja ketika saya bedah tumor. Orang sana kalau tidak melihat langsung benda yang membuat sakit dikeluarkan, mereka tak percaya. Istilahnya ada anak panah dikeluarkan, apa benar anak panahnya cuma satu. Tumor yang diangkat saya tunjukkan," ucapnya.

Keahlian Tigor melakukan bedah di Puskesmas Wamena menyebar dari mulut ke mulut hingga ke Jayapura. Bahkan beberapa kali mereka merekomendasikan operasi pasien untuk penyakit di tulang belakang kepada Tigor. Karena para dokter spesialis di Jayapura justru tak berani melakukan operasi itu.

"Mereka bilang bawa saja ke Wamena, ada 'dokter barbar' di sana. Tetapi tidak pernah ada yang mati di meja operasi saya sejauh ini," Tigor menegaskan.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed