69 Balita di Kamp Pengungsian di Ambon Kurang Gizi
Senin, 20 Jun 2005 20:35 WIB
Ambon -
Kasus gizi buruk terus kembali ditemukan. Sedikitnya 60 bayi berusia di bawah lima tahun (balita) di kamp pengungsian Taman Hiburan Rakyat (THR) Kelurahan Waihaong, Nusaniwe, Ambon, menderita kurang gizi. Temuan ini diungkapkan Kepala Puskesmas Waihaong dr Wendi Pattisahusiwa kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Senin (20/6/2005). Saat itu Wendi dikonfirmasi soal bayi penderita busung lapar bernama Harun (1,3 tahun). Menurut Wendi, dari hasil penimbangan pada Posyandu maupun pemeriksaan di Puskesmas, ternyata ada 69 bayi terserang kurang gizi. Ini dibuktikan dengan kartu menuju sehat (KMS) yang ditandai dengan titik diantara garis merah dan kuning. "rtinya mereka kurang gizi," kata Wendi.Kurangnya gizi 69 balita itu, kata dr Wendi, selain diakibatkan karena makanan yang diberikan kurang bergizi juga keadaan lingkungan yang terlihat kumuh dan sungguh kotor. "Coba anda lihat sendiri. Setiap kamar pengungsi tidak tertata rapi, kumuh, tak ada satu pun bilik kamar. Tak ada fentilasi, dan saluran drainase yang kotor."Sebelumnya, salah satu balita yang juga sempat diperiksa di Puskesmas Waihaong meninggal akibat menderita kurang gizi dan terserang TBC. Hal senada disampaikan dr Yusda Tuharea, dokter umum di Puskesmas Waihaong. Menurutnya, kurangnya gizi balita, juga disebabkan kurangnya kesadaran warga pengungsi yang malu maupun enggan ke Posyandu maupun Puskesmas. Bukan itu saja, setiap kali ada swiping imunisasi di rumah-rumah warga, selalu saja, pintu rumah ditutup. "Mereka takut dimarahi dokter karena jarang membawa anaknya ke Posyandu," ujar Yusda.Salah seorang warga pengungsi, Ny. Hayati Hakim, mengatakan kegiatan posyandu selalu dilakukan. Hanya saja, warga pengungsi kadang malas menimbang bayinya. "Jangan salahkan puskesmas, warga sendiri malas membawa bayinya ke posyandu," ujarnya.Menurut koordinator kamp pengungsian THR, Fatima Sangadji, sebenarnya penyakit kurang gizi banyak sekali menyerang balita. Hanya saja, para orang tua bayi selalu tertutup. Mereka jarang melapor ke Puskesmas. "Ke kita saja tidak pernah. Mereka sangat tertutup sekali."Data yang tercatat di Puskesmas, pada camp pengungsian THR Waihaong ada 159 balita. Pantauan detikcom di sekitar kamp pengungsian yang modelnya seperti barak militer, sejumlah WC dan kloset terlihat rusak parah. Air minum yang dikonsumsi warga setempat juga berasal dari sumur bor Masjid yang warna airnya agak keruh.
(gtp/)










































