Begini Analisis Kementerian LHK soal Banjir di Jakarta Hari ini

Begini Analisis Kementerian LHK soal Banjir di Jakarta Hari ini

Ray Jordan - detikNews
Senin, 05 Feb 2018 21:22 WIB
Begini Analisis Kementerian LHK soal Banjir di Jakarta Hari ini
Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar (Hary Lukita/detikcom)
Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menganalisis potensi banjir di Jakarta. Menurutnya, air kiriman dari Bogor, Jawa Barat, hanya menyumbang sekitar 20 persen banjir, sisanya dari kali yang ada di Jakarta.

"Saya coba analisis dari penelitian para pihak lain. Banjir Jakarta yang datang dari sini (Puncak) paling 20 persen, 27 persen dari Kali Pesanggrahan, Angke, Krukut, jadi ini simultan. Oleh karena itu, kawan-kawan di KLHK sedang turun dan awasi ini," kata Siti saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/2/2018).


Siti mengatakan, jika melihat situasi terkini, memang potensi banjir di Jakarta harus sudah diwaspadai. Sebab, sungai-sungai yang ada di Jakarta sudah masuk tahapan yang rawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau lihat gambarnya memang sudah harus diwaspadai, sebab sudah masuk ke wilayah warning-nya sudah agak rawan, warning-nya sudah sampai ke hampir siaga, bahaya. Saya kan punya stasiun pengamatan air sungai. Jadi situasinya seperti itu," kata Siti.

Dikatakan Siti, dari tahun ke tahun, wilayah permukiman di Jakarta meningkat pesat, terutama di kawasan dekat daerah aliran sungai.

"Dari 1998 ke 2008 saja, kenaikan permukiman di wilayah DAS Ciliwung 3,5 kali lipat. Apalagi sekarang. Jadi memang situasinya harus kita ikuti," kata Siti.

"Kalau lihat gambar yang dikeluarkan media, sudah sampai sini lo, sampai di bibir merah (batas atas tinggi air di Pintu Air Katulampa). Jadi mesti dilihatin terus," imbuh Siti.


Sementara itu, terkait dengan tanah longsor di kawasan Puncak, Bogor, Siti mengatakan hal tersebut juga disebabkan oleh tingginya curah hujan di empat titik kawasan Puncak. Sehingga tekanan air sangat tinggi.

"Curah hujan di empat titik itu tinggi, di Gunung Mas 151 milimeter per hari, 151 itu bayangkan kalau NTT saja paling tinggi cuma 700 atau 900 mm setahun, ini sehari," kata Siti.

"Ingat nggak banjir waktu zaman Pak Ahok itu, itu sampai 300 milimeter (per hari)," tambahnya.

Untuk itu, perlu adanya daerah resapan air yang sangat baik. Siti pun menyarankan kepada pemerintah daerah Bogor agar membuat banyak biopori daripada membuat dam.

"Daerah kami sarankan lebih banyak bangun biopori daripada bikin dam. Dam di atas itu kurang pengaruhnya, tidak sebesar biopori. Jadi lebih bagus biopori dibanyakin," katanya.

"Kalau Jakarta jangan lihat dari atas, lihat dari Depok-nya. Kan ada kali-kali lain," tambah Siti. (jor/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads