Temui Camat Cilandak, Warga Minta Mediasi soal Pembangunan Apartemen

Temui Camat Cilandak, Warga Minta Mediasi soal Pembangunan Apartemen

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 05 Feb 2018 11:09 WIB
Foto: Ratih Kusmawardani memakai baju hitam. (Kanavino-detikcom)
Foto: Ratih Kusmawardani memakai baju hitam. (Kanavino-detikcom)
Jakarta - Warga penghuni Eks Lapangan Golf Fatmawati City Center bertemu dengan Camat Cilandak Tomy Fudihartono. Warga meminta adanya mediasi dengan PT Agung Sedayu Group terkait pembangunan Apartemen Fatmawati City Center di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

"Kami tujuan kami datang ke sini, untuk tujuannya bertemu dengan Pak Camat, Pak Lurah mem-follow up, kita pernah diundang 27 Juli 2017 untuk mediasi, jadi awalnya gini, saya dan ketiga teman saya berempat, Februari 2016 rumahnya dibongkar paksa, tanpa pemberitahuan, ilegal lah, karena tidak ada surat-surat dari polsek setempat koramil, aparat di sekitar Cilandak, kita di lapangan fighting, saya ditarik keluar rumah, rumah saya habis, dibongkar," kata salah seorang perwakilan warga, Ratih Kusmawardani, saat ditemui di Kantor Kecamatan Cilandak, Jalan KH Muhasyim Raya, Jakarta Selatan, Senin (5/1/2018)

Menurut Ratih, pembangunan Apartemen Fatmawati City Center yang dilakukan sejak 2016 itu berimbas terhadap tempat tinggal miliknya. Mereka terpaksa pindah dari rumah dinas flat tersebut tanpa ada kejelasan soal ganti rugi.

"Tujuan kami supaya dari pihak kecamatan memfasilitasi kembali untuk pertemuan antara kami empat warga yang belum mendapatkan ganti rugi dengan PT Agung Sedayu," ujarnya.

Ratih mengatakan sebagian warga yang tinggal di kompleks tersebut telah pindah dan diberi ganti diberi uang ganti rugi. Namun uang tersebut, kata Ratih, tak jelas asal-usulnya. Ratih bersama ketiga orang temannya bertahan untuk memperjuangkan agar uang ganti rugi itu sesuai.

"Maka teman-teman kami yang sudah pindah dapat dari calo, yang nggak jelas uangnya dari mana. Yang tersisa kami berempat," tuturnya.

Bangunan tempat tinggal mereka sekarang telah rata dengan tanah dan akan dibangun sebagai kawasan Apartemen Fatmawati City Center. Ratih dan kawan-kawan saat ini telah pindah ke tempat lain.

Temui Camat Cilandak, Warga Minta Mediasi soal Pembangunan ApartemenFoto: Camat Cilandak Tomy Fudihartono. (Kanavino-detikcom)

Senada dengan Ratih, salah seorang warga lainnya, Poerwaningsih, mengatakan ada 3 flat rumah yang disediakan bagi pegawai RS Fatmawati dan Kementerian Kesehatan di lokasi tersebut. Dia mengatakan ada 5 hektare tanah yang terkena imbas pembangunan Apartemen Fatmawati City Center.

"22 hektare (semuanya), 5 hektare yang sebagian rumah kompleks pegawai depkes pegawai pemerintah Jamkes," ujarnya.

Sementara itu, Camat Cilandak, Tomy Fudihartono, mengatakan empat orang warga yang meminta mediasi itu tinggal sesuai dengan surat izin penempatan (SIP) dari Kemenkes dan Yayasan Fatmawati. Tomy juga sempat menanyakan soal status dari SIP yang dimiliki oleh empat warga tersebut.

"Dari empat orang, tiga menempati, rumah dinas, flat, jadi tiga berdasarkan surat izin penempatan (SIP) dari Kementerian Kesehatan. Yang satu berdasarkan dari Yayasan Fatmawati, empat orang ini minta penyelesaian masalah mereka menempati terus bahasanya diusir atau gimana tadi kita coba difasilitasi," tuturnya.

"Ya tawarkan undang pihak kementerian maupun yayasan, karena yang mengeluarkan SIP itu kementerian dan yayasan. Nah SIP itu ada dua kemungkinan, ada yang expired-nya, kalau ada yang expired-nya kan jelas. Contoh kayak saya nih. Camat. Kalau lepas jabatan, begitu saya nggak jadi camat. Saya harus keluar. Tapi kalau yang nggak ada expired-nya kan SIP itu nggak disebutkan masa waktunya," sambungnya.

Setelah mendengarkan masukan dari warga, Tomy akhirnya menjadwalkan mediasi dengan PT Agung Sedayu Group pada 22 Februari 2018 mendatang. Kata Tomy, keempat warga itu juga sempat ditawari uang ganti rugi namun tidak sesuai.

"Ya sudah disepakatin, mereka maunya mengundang pemilik yang sekarang. Kita rencanakan undang tanggal 22 Februari. Mereka pernah ditawarkan uang, cuman karena nggak sesuai atau gimana, akhirnya mereka bertahan. Saya belum pegang data, data nanti disampaikan ke kecamatan," ujarnya. (knv/idh)