DetikNews
Minggu 04 Februari 2018, 00:40 WIB

Soal Video Pidato Kapolri, GP Ansor: Nggak Ada Masalah

Yulida Medistiara - detikNews
Soal Video Pidato Kapolri, GP Ansor: Nggak Ada Masalah Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Yulida Medistiara/detikcom)
Jakarta - Ketua umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas menilai video pidato Kapolri Jenderal Tito Karnavian adalah hal wajar. Menurutnya dalam pidato tersebut Kapolri hanya menyampaikan sejarah soal peran NU dan Muhammadiyah.

"Saya kira tidak ada masalah. Kapolri itu hanya menyampaikan jejak sejarah. Beliau katakan bahwa yang paling berjasa atas negeri ini adalah NU dan Muhammadiyah. Kalimatnya pahami dengan baik. Paling berjasa artinya ada juga kelompok lain yang berjasa tanpa menafikan kelompok lain," kata Yaqut usai meresmikan lapangan bulutangkis GP Ansor, di Kantor GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Sabtu (3/2/2018).

"Jadi saya kira nggak ada masalah dari pernyataan pak Kapolri. Orang hanya mencari masalah," sambung Yaqut.

Yaqut menilai kalimat Kapolri memakai kata 'paling', berarti memiliki andil yang lebih banyak daripada ormas lainnya. Meski begitu ia juga mengakui ada peran ormas lainnya dalam membangun negeri.

Baca juga: Penjelasan Kapolri soal Pidato Ormas yang Ingin Rontokkan Negara

"Saya kira bukan multitafsir. Jelas kok Kapolri bilang yang paling berjasa ya NU dan Muhammadiyah. Kan begitu ya, saya kira benar saja kalimatnya paling. Kalau kalimat paling kan ada yang biasa-biasa saja, itu kan hanya level," ujarnya.

Baca juga: KH Said: Polemik Pidato Kapolri soal NU-Muhammadiyah Sudah Selesai

Dia mencontohkan sejarah pada pertempuran Surabaya. Yaqut menyebut saat itu NU mengeluarkan pernyataan jihad melawan pemerintah kolonial adalah wajib.

"Misalnya di sejarah 10 November pertempuran di Surabaya itu siapa yang kemudian menyatakan jihad itu wajib? NU. Jihad melawan pemerintah kolonial itu wajib siapa? NU. Itu penghargaan tanpa menafikan yang lain. Saya kira wajar," imbuhnya.

Sebelumnya, Tito menyebut potongan video pidatonya soal ormas pendiri negara yang viral terjadi pada 2017. Menurut Tito, pidatonya tersebut berdurasi sekitar 24 menit tapi dipotong atau diedit menjadi 2 menit dan menyebabkan ada yang salah paham soal isi pidatonya.

"Itu sebetulnya kata sambutan saya cukup panjang, sekitar 24 menit. Tapi dipotong 2 menit dan 2 menit itu mungkin ada bahasa-bahasa yang kalau hanya dicerna 2 menit itu mungkin membuat beberapa pihak kurang nyaman," jelas Tito di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (31/1) kemarin.
(yld/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed