Imigrasi Tahan Paspor Jurnalis BBC Terkait Cuitan Bantuan Papua

Jabbar Ramdhani - detikNews
Sabtu, 03 Feb 2018 22:43 WIB
Kabag Humas & Umum Dirjen Imigrasi Agung Sampurno (kanan) (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Direktorat Jenderal Imigrasi menahan paspor jurnalis asing, Rebecca Alice Henschke, yang menulis bantuan untuk anak-anak gizi buruk di Papua berupa mi instan dan biskuit lewat akun Twitternya.

"Tindakan keimigrasian yang dilakukan adalah menahan paspor yang bersangkutan sampai dengan proses pemeriksaan selesai dilakukan. Selanjutnya akan dilakukan koordinasi dengan sponsor yang mendatangkan orang asing tersebut," kata Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno, lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (3/2/2018).

Agung mengatakan pihak Imigrasi Timika bersama Tim Pengawas Orang Asing (PORA) terus memantau perkembangan kasus. Cuitan Rebecca dinilai tak menghormati dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.


"Perbuatan Jurnalis BBC warga negara Australia Rebecca Alice Henschke tidak menghormati dan mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku," tutur Agung.

"Semoga menjadi pembelajaran bersama bagi orang asing lainnya agar ketika tinggal dan berada di wilayah Indonesia harus menghormati peraturan perundang-undangan nasional yang berlaku, seperi kata pepatah 'Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung'," sambungnya.

Menurutnya, cuitan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap pemerintah. Pemerintah, kata Agung, telah berusaha sangat keras dalam memberi bantuan kemanusiaan untuk menangani kejadian luar biasa yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua.

"Cuitan di akun pribadinya tidak hanya menyinggung pemerintah tetapi juga masyarakat Indonesia yang selama menyaksikan kemajuan pembangunan di wilayah Papua, serta mencederai profesi jurnalis yang harus berimbang dalam pemberitaan berdasarkan fakta yang ada," ungkapnya.

Agung mengatakan aktivitas setiap orang asing diawasi Tim PORA yang terdiri dari berbagai instansi di luar imigrasi termasuk instansi keamanan. Pengawasan ini lazim dilakukan di semua negara dan bagian dari fungsi pemerintah dalam menjaga kedaulatan.

"Keberadaan beliau di Indonesia dalam rangka melaksanakan tugas jurnalis dari kantor berita BBC, sehingga perbuatan beliau juga menjadi tanggung jawab sponsor yang mendatangkannnya," ucap Agung.

Sebelumnya diberitakan, Rebecca menyebut bantuan yang diberikan pemerintah Indonesia untuk anak-anak gizi buruk di Papua hanya berupa mi instan, minuman ringan, dan biskuit.

Hal ini telah diluruskan Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol (Inf) M Aidi. Aidi mengatakan foto yang diunggah Rebecca bukan bantuan bagi anak-anak gizi buruk. Barang-barang tersebut merupakan barang dagangan.

"Cuitannya itu tidak sesuai dengan kenyataan. Yang difotonya di dermaga speed itu bukan sumbangan. Itu barang barang dagangan dari pedagang yang kebetulan ada di situ," M Aidi kepada wartawan, Jumat (2/2/2018)

"Dia juga menulis bahwa anak-anak yang mengalami gizi buruk hanya diberikan coklat biskuit," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko juga telah menerima laporan hal itu. Ia mengatakan barang-barang tersebut bukanlah untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan perbaikan gizi.

"Ada barang-barang yang mau dikirim. Dia membuat persepsi sendiri padahal barang dagangan orang. Jangan langsung menginterpretasi gambar. Itu kan pelabuhan umum. Nggak ngerti barang bawaan mau dibawa ke mana. Begitu mendarat, (Rebecca) dibawa ke imigrasi untuk ditanya," ujar Moeldoko kepada detikcom. (jbr/nvl)