Warga Dusun Bontoa, Desa Gentungang, Kecamatan Bajeng Barat itu harus bertahan hidup sebagai orang tua tunggal sejak ditinggal kawin oleh suaminya sejak sepuluh tahun silam. Ia menempati gubuk berukuran 3x4 meter beralas tanah. Sahariah hidup memprihatinkan bersama empat orang anaknya, Apriana (20), Agustiawan (17) dan Sri Mulyati (14) serta Muhammad Amin (12).
![]() |
Setiap hari Sahariah harus bekerja sebagai pembuat batu merah milik warga dengan upah Rp 30 ribu/ 1000 buah batu batu merah.
"Dalam seribu batu saya dapat tiga puluh ribu" kata Sahariah kepada detikcom, Jumat (2/2/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harapan satu-satunya hanya ada pada anak keduanya, Agustiawan yang hingga saat ini masih mengenyam pendidikan di bangku kelas dua SMA.
![]() |
"Awalnya mereka semua sekolah tapi tiga orang berhenti karena tidak ada biaya tinggal satu yang terus sekolah" kata Sahariah.
Kehidupan anak-anak Sahariah pun tak seperti dengan anak-anak seusianya. Meski masih dibawah umur namun mereka tetap bekerja membantu beban hidup orangtuanya
![]() |
"Saya yang masih sekolah kalau yang lain sudah berhenti karena tidak ada biaya dan mau tidak mau semuanya kerja bikin batu merah untuk bantu ibu saya juga begitu kalau pulang sekolah langsung kerja bikin batu merah" kata Agustiawan.
![]() |
Memasuki usia yang telah paruh baya Sahariah terus bekerja meski denga nafas yang tak seperti dulu lagi seiring dengan usianya. Satu hal yang pasti Sahariah terus berdoa agar Tuhan memberikan kesehatan fisik kepadanya agar mampu terus bekerja dengan empat orang buah hatinya. (asp/asp)















































